jpnn.com, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebutkan hingga saat ini belum ada kasus yang terindikasi penyakit super flu di wilayah Jakarta.
Adapun Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan sudah melaporkan adanya kasus penularan super flu ini
BACA JUGA: Pasien Super Flu Meninggal di RSHS Bandung, Punya Riwayat Komorbid
"Jadi untuk super flu sampai hari ini belum ada kasusnya di Jakarta," kata Pramono di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Minggu.
Super flu adalah varian influenza A H3N2 subkelas K yang mudah menular dan menimbulkan gejala lebih berat.
BACA JUGA: Waspada! Penularan Virus Super Flu Sangat Cepat Â
Namun, dia mengimbau masyarakat untuk menerapkan upaya preventif melalui vaksinasi.
"Saya sudah berkali-kali menyampaikan kepad Dinas Kesehatan, untuk melakukan preventif, persiapan. Bagi masyarakat yang ingin divaksin, memang vaksinnya masih berbayar karena memang belum menjadi program dari pemerintah pusat," ujarnya.
Pramono Anung pun berharap Jakarta terbebas dari kasus super flu.
"Jadi sekali lagi, untuk super flu sampai hari ini, Jakarta belum ditemukan dan mudah-mudahan tidak ditemukan," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Ani Ruspitawati mengatakan untuk saat ini belum tersedia vaksin khusus super flu, namun vaksin influenza bisa digunakan sebagai bentuk antisipasi.
“Sebenarnya tidak ada khusus vaksin super flu tapi kita memang ada vaksin influenza. Vaksin influenza ini sudah lama ada dan bisa diberikan,” jelas Ani.
Namun, kata Ani, karena pemberian vaksin tersebut belum masuk dalam program pemerintah, masyarakat yang ingin mendapatkan vaksin tersebut masih dikenakan sejumlah biaya.
"Tapi memang dia belum program vaksin. Jadi, artinya masih berbayar. Tapi masyarakat bisa mendapatkan vaksin influenza ini di faskes-faskes termasuk di RSUD kami,” kata Ani.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan super flu bukanlah virus baru, melainkan jenis influenza yang telah ada dan dikenal selama puluhan tahun.
"Super flu itu sebenarnya influenza A istilahnya. Ini sudah ada puluhan tahun, nama virusnya H3N2, itu sudah ada puluhan tahun cuma ini varian baru," ujar Budi di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Kamis (8/1).
Dia mengatakan super flu berbeda dengan COVID-19 yang merupakan virus baru. Karena virus influenza telah lama dikenal, maka daya tahan tubuh manusia terhadap virus tersebut juga sudah terbentuk.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul


