Meski Tantangan Berat Seusai Lulus, ”Fresh Graduate” Tetap Punya Peluang Kerja 

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah praktisi sumber daya manusia, pemerhati sistem vokasi, dan perusahaan platform iklan lowongan kerja mengakui lulusan baru saat ini tengah menghadapi tantangan yang kian berat untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus. Namun, situasi itu bukan berarti tidak ada sama sekali lowongan pekerjaan yang terbuka untuk mereka.

Ketua Umum Perkumpulan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia, Dudi Arisandi, dalam wawancara tertulis via surat elektronik, Jumat (9/1/2026), di Jakarta, mengatakan, fenomena lulusan baru (fresh graduate) cenderung semakin susah mendapatkan pekerjaan bukan sekadar omong kosong. Beberapa faktor menjadi penyebabnya.

Faktor pertama datang dari kondisi ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada dunia bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, marak perusahaan melakukan efisiensi, perampingan organisasi, dan menahan ekspansi sampai memindahkan usahanya ke negara lain. Aktivitas ini memengaruhi rekrutmen di pekerja level awal (entry level). 

Baca JugaRisiko PHK dan Pengangguran Usia Muda Berpotensi Meluas Tahun 2026

Faktor kedua datang dari perkembangan teknologi dan otomatisasi. PMSM yang menjadi organisasi profesi sumber daya manusia di Indonesia sejak 1978, memperhatikan faktor itu tidak bisa disangkal lagi. Posisi pekerja level awal yang dulunya gampang diisi oleh lulusan baru mulai tergantikan oleh mesin. 

“Di area yang sangat terdampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), seperti perusahaan teknologi, layanan pelanggan dan administratif ataupun pekerjaan berulang lainnya, kesempatan kerja bagi lulusan baru turun signifikan dibanding mereka yang lebih berpengalaman,” ujar Dudi. 

Faktor ketiga yaitu masalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Dia mengakui, masalah ini berulang kali terjadi, tetapi dari pengamatan PMSM Indonesia masih banyak lulusan baru yang ”sangat teoritis”. Sementara dunia kerja sekarang semakin memerlukan pekerja yang punya keterampilan praktis, berpikir analitis, bisa memecahkan problem, dan punya kemampuan bekerja secara tim. 

Sebagian besar pekerja muda yang telah bekerja, mengerjakan bidang-bidang yang tidak sesuai dengan jurusan atau level pendidikannya. Akibatnya, persaingan di posisi pekerjaan yang aman dimasuki siapa saja menjadi sangat ketat. 

“Para lulusan baru bersaing dengan yang telah berpengalaman, tetapi sedang menganggur atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK),” kata Dudi. 

Lowongan pekerjaan yang benar‑benar spesifik untuk lulusan baru, menurut dia, jumlahnya lebih kecil dibanding total lulusan SMA/SMK, D3, dan S-1 tiap tahun. Dudi tidak menyebut data angka untuk memperjelas perbandingan. 

Karakter individu

Faktor penyebab terakhir datang dari pribadi lulusan baru menyikapi ketiga situasi yang berkembang itu. Dia menyebutkan, masih ada sejumlah lulusan baru minim pengalaman praktis, seperti magang, ikut organisasi, dan komunitas. Akibatnya, mereka kalah bersaing dengan kandidat yang telah terpapar dunia kerja atau aktivitas praktis lain. 

“Sejumlah lulusan baru juga ada yang memiliki ekspektasi gaji dan jenis pekerjaan yang tidak realistis di tengah kondisi pasar kerja seperti sekarang. Mereka menolak atau tidak melamar posisi yang sebenarnya menurut kami bisa menjadi batu loncatan,” imbuh Dudi.

Baca JugaPengangguran Lulusan Perguruan Tinggi Meningkat

Secara terpisah, Head of Public Relations & Social di Kantor JobStreet by Seek Indonesia, Adham Soematrie, berpandangan senada. Kebutuhan dunia kerja juga berubah cepat karena digitalisasi dan otomasi sehingga ada kecenderungan perusahaan di Indonesia mencari talenta dengan keterampilan yang relevan, bukan hanya gelar dari institusi pendidikan.

Jadi, semakin sulit bagi lulusan baru menemukan pekerjaaan yang ideal dalam arti benar-benar linear dengan jurusan pendidikannya. 

Untuk lulusan baru dari SMK, mereka seharusnya lebih siap kerja karena dari kurikulum SMK dipersiapkan untuk langsung terjun ke industri. Misalnya, sebagai teknisi, operator produksi, mekanik, petugas logistik/pergudangan, frontliner ritel modern, ataupun bekerja di hotel dan restoran. 

Dengan bekal pendidikan vokasi yang kuat ditambah ikut program magang yang terstruktur, transisi lulusan baru SMK ke pasar kerja seharusnya relatif lebih mulus. Namun, mereka ternyata harus dihadapkan dengan realita pasar kerja yang menantang.

Baca JugaPengangguran di Jakarta Didominasi Usia Muda, 15-29 Tahun

Ketua Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3MKI) Marlock juga sependapat, terlepas dari isu link and match keterampilan, ada kecenderungan sebagian lulusan SMK tidak memiliki keterampilan internal yang mumpuni. Mereka bahkan tidak paham pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja sebagai aspek yang amat diperhatikan dunia industri. 

“Mencari karyawan untuk ritel supermarket, posisi waiter restoran, dan resepsionis hotel itu susah. Padahal, posisi-posisi itu bisa diisi oleh lulusan SMK. Lulusan baru SMK sekarang cenderung kurang memiliki integritas dan tidak niat sehat jasmani sehingga bekerja yang mensyaratkan lebih banyak berdiri saja enggan,” ucap dia. 

Kesempatan tetap ada

Meskipun demikian, bukan berarti kesempatan untuk lulusan baru serta merta hilang atau tidak ada.

PMSM Indonesia mengklaim, masih banyak perusahaan yang mencari lulusan baru untuk posisi management trainee, atau fungsi-fungsi pekerjaan kerah putih yang masih memerlukan peran manusia lebih besar. Namun, jumlah posisi yang tersedia lebih sedikit sehingga lulusan baru harus meningkatkan kompetensi.

Sekretaris Jenderal PMSM Indonesia, Wulan Ranny mencontohkan, posisi administrasi modern dan back office digital; customer experience nonotomatis; sales dan business development; pemasaran digital dan konten; data support, data entry, dan analis junior; junior sumber daya manusia; keuangan dan akuntan junior; serta posisi rantai pasok dan procurement support. Itu semua hasil pengamatan PMSM Indonesia pada 2025.

”Beberapa posisi tersebut masih akan menyerap lulusan baru, terutama mereka yang mau adaptasi, memiliki literasi digital, keterampilan data, dan komunikasi yang baik,” ujar dia.

Bidang pekerjaan yang sifatnya kerah biru juga masih terbuka untuk lulusan baru, bahkan sedang tumbuh. Dia mencontohkan, operator mesin dan teknisi; kurir, picker, packer logistik dan operator pergudangan; pekerja konstruksi dan infrastruktur; serta pekerjaan perawatan, perhotelan, dan pekerjaan yang berhubungan langsung dengan industri makanan-minuman.

Baca JugaTekanan Ekonomi Dorong Pekerja Formal Beralih Jadi Ojol, Kurir, Kreator, dan Pengecer Daring

”Banyak posisi pekerjaan kerah biru justru tumbuh karena masih ada pembangunan infrastruktur, manufaktur, dan logistik. Kalau mau bertransisi bekerja ke posisi itu, lulusan baru amat dimungkinkan. Namun, mereka harus siap mengikuti pelatihan teknis,” ucap Wulan.

Dari sisi Jobstreet by Seek Indonesia, Adham menyampaikan, contoh posisi yang kurang lebih sama. Misalnya, staf administrasi, customer service, staf operasional, sales pemula, data entry, analis junior, dan marketing support.

Posisi-posisi pekerjaan kerah putih seperti itu biasanya lebih menekankan kemampuan dasar seperti komunikasi, kedisiplinan, kemampuan belajar cepat, penguasaan komputer dan aplikasi perkantoran, serta kemauan untuk berkembang. Jadi, skala tantangan bagi lulusan baru relatif rendah. Berbagai latar belakang jurusan ilmu bisa melamar.

”Kalaupun akhirnya lulusan baru (terutama sarjana baru) masuk ke posisi pekerjaan kerah biru, idealnya mereka tetap mencari posisi yang masih linear dengan pendidikannya atau masih di rantai pasok industri. Dengan demikian, dalam jangka menengah, mereka bisa naik ke posisi yang lebih strategis atau manajerial,” imbuh Adham.

Sementara itu, Pendiri dan CEO Jobseeker Company Chandra Ming berpendapat, lulusan baru masuk ke posisi pekerjaan yang sifatnya kerah biru menjadi solusi praktis daripada menganggur lama karena susah mencari lowongan pekerjaan kerah putih. Jobseeker Company punya pengalaman merekrut, melatih, dan menempatkan pekerja kerah biru sehingga membantu hampir 1 juta orang memperoleh pekerjaan.

Sebanyak tujuh posisi pekerjaan yang banyak membutuhkan lulusan SMK atau setara, yaitu retailer, operator produksi manufaktur, teknisi, kurir, pekerja konstruksi, operator alat berat di pertambangan, dan pekerja di pertanian.

”Kami memperkirakan, lowongan pekerjaan di sektor pertanian, apalagi sudah menggunakan teknologi, akan semakin terbuka. Di proyek perkebunan yang kami kerjakan di Maluku Utara, misalnya, sedang butuh lebih dari 12.000 orang pekerja untuk tim memanen,” kata Chandra.

Sebelumnya, sejumlah ekonom dan akademisi sudah menyampaikan fenomena lulusan baru susah dapat pekerjaan dan berisiko menganggur atau masuk lapangan kerja bernilai tambah rendah.

Baca JugaBank Dunia Soroti Penciptaan Lapangan Kerja di Indonesia Bernilai Tambah Rendah

Peneliti departemen ekonomi CSIS Deni Friawan menjelaskan, meski tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada 2025 tergolong rendah, yakni 4,8 persen, penurunan tersebut terutama ditopang sektor informal.

Tingkat pengangguran usia muda masih sangat tinggi mencapai 17 persen, kontras dengan pengangguran orang dewasa yang hanya 1–3 persen. Dia juga menyebutkan, lebih dari 1,01 juta lulusan universitas justru menganggur pada awal 2025 (Kompas.id, 7/1/2026).

Selain CSIS, beberapa lembaga sejak 2025 menyoroti fenomena maraknya penganggur terdidik. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI lewat laporan seri analisis makroekonomi ”Indonesia Economic Outlook Q2–2025 (Mei 2025)” menyebutkan, dalam situasi kemerosotan ekonomi, tingkat pengangguran terbuka untuk individu dengan pendidikan menengah dan tinggi cenderung meningkat lebih tajam dibandingkan individu dengan tingkat pendidikan lebih rendah.

Bank Dunia dalam riset ”Indonesia Economic Prospects: Fondasi Digital untuk Pertumbuhan” yang terbit Desember 2025 menyebutkan, pengangguran di Indonesia menurun seiring kenaikan penyerapan tenaga kerja sebesar 1,3 persen pada periode Agustus 2024–Agustus 2025. Namun, kaum muda Indonesia banyak terserap ke sektor informal bernilai tambah rendah. Kondisi ini telah terlihat sejak pascapandemi Covid-19.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Inter Milan Tetap Puncaki Klasemen Usai Ditahan Napoli 2-2
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sopir Mobil BMW Pelat Dinas Merokok Saat Berkendara, Kemhan: Pelat Palsu dan Tidak Sah
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Kian Diandalkan, Pengguna Kereta Api di Sumatera Utara Melonjak Sepanjang 2025
• 11 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Preview Piala FA: Liverpool vs Barnsley, Misi The Reds Hindari Kejutan di Anfield
• 58 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Jalan Utama Putus Imbas Longsor, 3.522 Warga Desa Tempur Jepara Terisolasi
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.