Singapura: Harga minyak melanjutkan kenaikannya pada perdagangan Senin karena meningkatnya kekhawatiran protes yang semakin intensif di Iran dapat mengganggu pasokan dari produsen OPEC tersebut, meskipun upaya untuk segera melanjutkan ekspor minyak dari Venezuela membatasi kenaikan harga.
Mengutip Investing.com, Senin, 12 Januari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka naik 31 sen, atau 0,49 persen, menjadi USD63,65 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD59,42 per barel, naik 30 sen, atau 0,51 persen.
Kedua kontrak tersebut naik lebih dari tiga persen pekan lalu, mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober, seiring dengan intensifikasi penindakan oleh rezim ulama Iran terhadap demonstrasi terbesar sejak 2022.
Kerusuhan sipil tersebut telah menewaskan lebih dari 500 orang, kata sebuah kelompok hak asasi manusia pada Minggu. Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika kekerasan digunakan terhadap para demonstran.
Presiden diperkirakan akan bertemu dengan para penasihat senior pada Selasa untuk membahas opsi-opsi bagi Iran, kata seorang pejabat AS kepada Reuters pada hari Minggu.
"Ada juga seruan agar para pekerja di industri minyak melakukan mogok kerja di tengah protes," kata analis ANZ yang dipimpin oleh Daniel Hynes dalam sebuah catatan. "Situasi ini menempatkan setidaknya 1,9 juta barel minyak per hari dalam risiko gangguan," tambah mereka.
Baca juga: Harga Minyak Naik Karena Risiko Pasokan Iran dan Rusia
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Venezuela akan melanjutkan ekspor minyak
Di sisi lain, Venezuela diperkirakan akan segera melanjutkan ekspor minyak setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro, karena Trump mengatakan pekan lalu bahwa pemerintah di Caracas akan menyerahkan sebanyak 50 juta barel minyak yang dikenai sanksi kepada Amerika Serikat.
Hal itu memicu persaingan di antara perusahaan-perusahaan minyak untuk mencari kapal tanker dan menyusun operasi untuk mengirimkan minyak mentah dengan aman dari kapal dan pelabuhan-pelabuhan Venezuela yang bobrok, menurut empat sumber yang mengetahui operasi tersebut.
Dalam pertemuan dengan Gedung Putih pada Jumat, Trafigura mengatakan kapal pertama mereka akan mulai memuat barang dalam minggu depan.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F09%2F16%2F6cba4a56b20ca5acdc627acdc3071377-FAK_3665.jpg)