JAKARTA, KOMPAS.com – Pernyataan terbuka Juru Bicara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2024, Dharma Pongrekun–Kun Wardana, Ikhsan Tualeka, menyita perhatian publik.
Ia melayangkan somasi etik terbuka kepada komedian Pandji Pragiwaksono terkait materi stand-up comedy bertajuk Mens Rea yang tayang di platform digital Netflix.
Ikhsan menegaskan, somasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai langkah hukum. Sebaliknya, itu merupakan bentuk keberatan moral terhadap materi komedi politik yang dinilainya berpotensi merendahkan pemilih tertentu dalam Pilkada DKI Jakarta 2024.
Baca juga: Jubir Dharma Pongrekun Somasi Pandji Pragiwaksono Terkait Sindiran di Mens Rea
Menurut Ikhsan, materi Mens Rea tidak hanya mengkritik kandidat, tetapi juga mengarah pada candaan yang dianggap mendeligitimasi warga atas pilihan politik mereka. Kondisi inilah yang menjadi dasar somasi etik terbuka tersebut.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Pandji Pragiwaksono, dharma pongrekun-kun wardana, Mens Rea, mens rea pandji, wrap up, Somasi Etik Pandji Pragiwaksono, Stand-Up Comedy Netflix, Martabat Politik Warga&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMi8wOTI4MDc0MS9zZWRlcmV0LWFsYXNhbi1kaGFybWEtcG9uZ3Jla3VuLWxheWFuZ2thbi1zb21hc2kta2VwYWRhLXBhbmRqaQ==&q=Sederet Alasan Dharma Pongrekun Layangkan Somasi kepada Pandji Pragiwaksono§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `“Yang dipersoalkan bukan perbedaan pandangan politik, melainkan cara pandang yang merendahkan hak politik sebagian warga,” ujar Ikhsan dalam keterangannya yang diterima Kompas.com, Minggu (11/1/2026).
Ikhsan menyebutkan pasangan Dharma–Kun memperoleh sekitar 10 persen suara dalam Pilkada DKI Jakarta 2024. Angka tersebut, menurut dia, merepresentasikan ratusan ribu warga Jakarta yang telah menggunakan hak pilihnya secara sah.
Oleh karena itu, ketika pilihan politik tersebut dijadikan bahan olok-olok di ruang publik, Ikhsan menilai yang direndahkan bukan hanya sosok kandidat, melainkan juga para pemilihnya.
“Ketika pilihan itu dijadikan objek olok-olok di ruang publik, maka yang direndahkan bukan semata seorang kandidat, melainkan sebagian nyata dari rakyat Jakarta yang menggunakan hak,” kata Ikhsan.
Baca juga: Jenazah Farhan Dimakamkan di TPU Budi Dharma Semper: Selamat Jalan Han!
Dianggap tidak rasionalIkhsan mengaku menerima banyak keluhan dari para pendukung Dharma–Kun setelah tayangan Mens Rea beredar.
Para pemilih merasa diposisikan sebagai kelompok yang tidak rasional atau kurang cerdas dibandingkan pemilih lainnya.
Dalam somasinya, Ikhsan menilai humor politik seharusnya memperkaya ruang dialog publik, bukan justru menciptakan hierarki simbolik antarwarga negara
“Ini bukan soal sensitivitas berlebihan, melainkan soal martabat politik warga negara,” ujarnya.
Menyinggung relasi kuasaIkhsan juga menyoroti fakta bahwa materi komedi tersebut disampaikan melalui platform berbayar, yang menurutnya menempatkan Pandji dalam posisi relasi kuasa yang lebih kuat dibandingkan warga yang menjadi objek candaan.
Ia mengaitkan situasi ini dengan konsep kekerasan simbolik yang diperkenalkan sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu.
“Ia tidak hadir dalam bentuk larangan atau ancaman, tetapi melalui penertawaan yang tampak wajar, bahkan dianggap cerdas. Namun dampaknya nyata: delegitimasi pilihan politik warga dan pengerdilan partisipasi,” jelas Ikhsan.



