Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.834 per Jumat, 9 Januari 2026. Posisi rupiah itu melemah 33 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.801 pada perdagangan Kamis, 8 Januari 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 12 Januari 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.847 per dolar AS. Posisi itu melemah 28 poin atau 0,17 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.819 per dolar AS.
- pixabay.com/WonderfulBali
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sepekan ke depan rupiah berpotensi melemah mendekati level Rp 16.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dia mengatakan bahwa dinamika dan gejolak geopolitik global yang masih berlangsung, memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global dan domestik.
Namun, Ibrahim mengatakan bahwa meskipun rupiah mengalami tekanan, namun posisi cadangan devisa Indonesia justru tercatat meningkat.
Menurutnya, hal ini mengindikasikan bahwa Bank Indonesia (BI) tidak terlalu agresif dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui instrumen Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun Non Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional.
Dengan memperhatikan kondisi saat ini, Ibrahim mengatakan bahwa kemungkinan besar di kuartal pertama rupiah justru bisa menuju Rp 17.000 per dolar AS, dan ini yang harus menjadi perhatian serius.
Ibrahim juga mengingatkan bahwa kuatnya tekanan ekonomi global dan risiko geopolitik masih akan menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah.
Dengan kondisi tersebut, Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah pada kuartal pertama 2026 masih akan berada dalam tren pelemahan.
"Sehingga pelaku pasar perlu bersikap waspada terhadap volatilitas nilai tukar dalam waktu dekat," ujarnya.




