Arif Wicaksono: Wajar Publik Masih Meragukan Ijazah Jokowi

fajar.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pegiat politik, ekonomi, dan sosial Arif Wicaksono blak-blakan mengungkapkan keraguannya terhadap keaslian ijazah Presiden ke-7 RI, Jokowi.

Ia menegaskan, polemik tersebut seharusnya tidak berlarut-larut jika sejak awal ditangani secara terbuka.

Dikatakan Arif, apabila ijazah yang dipersoalkan memang asli, maka penyelesaiannya cukup dengan menunjukkan dokumen tersebut kepada publik sebagai bentuk klarifikasi.

“Kalau ijazahnya asli, dari awal cukup tunjukkan dan buktikan saja ke publik,” ujar Arif di X @arifbalikpapan1 (12/1/2026).

Ia menuturkan bahwa ketidakhadiran Jokowi dalam sejumlah proses persidangan justru menambah tanda tanya di tengah masyarakat.

Situasi tersebut, kata Arif, membuat upaya pembuktian keaslian ijazah semakin sulit dilakukan.

“Tapi gimana mau buktikan, ke persidangan saja tak pernah hadir,” sebutnya.

Arif juga menyinggung keberadaan ijazah fisik yang hingga kini dianggap belum jelas. Menurutnya, hal itu menjadi salah satu faktor utama yang memicu keraguan publik.

“Ijazah fisiknya saja masih nggak jelas ada dimana,” tandasnya.

Dengan kondisi tersebut, Arif bilang bahwa wajar jika masyarakat masih mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi.

Ia menegaskan bahwa keraguan publik muncul bukan tanpa alasan, melainkan karena minimnya kejelasan yang diberikan.

“Jadi sangat wajar publik masih meragukan ijazah pak Jokowi,” kuncinya.

Sebelumnya, Penasihat Hukum Barisan Pembela Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma (BALA RRT), Refly Harun, bicara mengenai Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis yang mendatangi Presiden ke-7 RI, Jokowi, di Solo, meski keduanya berstatus tersangka.

Refly menyebut, Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis merupakan dua tersangka paling senior dalam perkara tersebut.

Kehadiran mereka ke Solo pun menjadi perhatian publik, terlebih karena keduanya disebut-sebut datang bersama relawan Jokowi.

“Beliau berdua adalah kebetulan yang paling senior dari semua tersangka, yaitu Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis. Dan ini menjadi pemberitaan hangat, apalagi kedatangan mereka diantar oleh relawan Jokowi,” ujar Refly dikutip pada Minggu (11/1/2026).

Dikatakan Refly, peristiwa tersebut menimbulkan banyak pertanyaan, meski secara prinsip merupakan hak pribadi masing-masing pihak.

Namun, Refly menganggap ada konteks yang justru memperkuat kecurigaan terhadap polemik ijazah yang tengah dipersoalkan.

“Banyak hal yang bisa kita bahas ini ya, terlepas bahwa itu adalah hak mereka, tetapi memang ada beberapa hal yang justru kalau saya kaitkan secara langsung, ini makin menguatkan bahwa memang ijazahnya itu palsu,” sebutnya.

Refly mempertanyakan mengapa dalam situasi hukum seperti ini justru muncul narasi dan simbol-simbol yang dinilainya mengarah pada upaya politik pecah belah di antara para tersangka.

“Kenapa harus melakukan politik dalam tanda kutip pecah belah terhadap tersangka? Kenapa harus ada simbol-simbol misalnya penyerahan, meminta maaf dan lain sebagainya, padahal kalau yakin dengan keaslian ijazah, ya selesai begitu saja, tidak usah didramatisir seperti ini,” tegasnya.

Ia mengaku peristiwa tersebut menjadi hal yang menarik untuk dicermati lebih jauh. Terlebih, menurutnya, Eggy Sudjana dikenal sebagai sosok yang selama ini memiliki sikap keras dan tegas.

“Kalau tokoh seperti Eggy Sudjana misalnya, tunduk seperti itu, ya tentu kita bertanya, why, what happened with Eggy Sudjana ya,” ucap Refly.

Refly juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat memperoleh informasi terkait adanya saran dari seorang tokoh yang dihormati Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis. Namun, ia menegaskan informasi tersebut tidak bisa disimpulkan secara sepihak.

“Intinya adalah, ada seorang tokoh ya, yang dihormati Eggy dan Damai Hari Lubis, yang mengatakan bahwa gak apa-apa sih ya. Gak apa-apa katanya, gak apa-apa kalau misalnya cooling down. Tapi ya jangan, jangan ini, jangan sowan ya,” ungkapnya.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah terdapat perubahan nasihat atau perubahan strategi dari Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis sendiri.

“Saya tidak tahu apakah ada perubahan nasihat dari seorang tokoh tersebut, atau memang ES dan DHL yang kemudian mengubah strateginya,” imbuhnya.

Meski demikian, Refly menegaskan pentingnya melihat peristiwa tersebut secara objektif dan proporsional, tanpa prasangka berlebihan.

“Kita tidak boleh memfitnah, tetapi begini, kita kan harus melihat kejadian itu dari circumstance-nya, dari environment-nya, dari keadaannya ya,” jelasnya.

(Muhsin/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gempa Hari Ini Magnitudo 4,4 Guncang Jember Jatim
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Siswa MTs di Aceh Tamiang Gotong Royong Bersama TNI Bersihkan Sekolah
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Muncul Nama Reza Pahlavi saat Demo Iran, Siapa Dia?
• 17 jam laluidntimes.com
thumb
Bongkar 21 Situs Judi Online, Bareskrim Didesak Miskinkan Bandarnya
• 18 jam lalukompas.com
thumb
IHSG Menguat di Awal Pekan Seiring Sentimen Positif Bursa Asia dan Global
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.