Tren gaya hidup sehat kini tak hanya terlihat dari semakin banyaknya orang yang rutin berolahraga, tetapi juga dari perubahan kebiasaan makan. Salah satu yang tengah naik daun adalah tren mengonsumsi makanan kukusan.
Belakangan tak sulit menemukan penjual aneka makanan kukus di pinggir jalan, mulai dari jagung, ubi, pisang, hingga singkong. Permintaan yang tinggi membuat bisnis makanan kukusan pun semakin menjamur.
Meski terlihat sebagai tren baru, metode memasak dengan cara dikukus sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Pakar kuliner sekaligus Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Murdijati-Gardjito, menyebut kebiasaan makan kukusan merupakan bagian dari pengetahuan dan teknologi alami masyarakat lokal sejak zaman Jawa kuno.
Lantas, apakah aman mengonsumsi makanan kukusan setiap hari?
Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah, menjelaskan bahwa makanan kukusan tergolong aman dan bahkan dianjurkan untuk dikonsumsi sehari-hari sebagai bagian dari pola makan harian.
"Makanan kukusan sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein hewani agar tidak hanya memberikan rasa kenyang dan mengikuti tren, tetapi juga mendukung pemeliharaan kesehatan tubuh secara optimal," katanya, dikutip dari laman IPB University, Senin (12/1).
Menurut Ai Imas, berbagai bahan pangan yang disajikan dalam bentuk kukusan umumnya memiliki kandungan gizi yang baik bagi kesehatan. Namun, ia tetap mengingatkan pentingnya prinsip variasi dan keseimbangan zat gizi dalam menu harian.
"Pangan kukusan seperti jagung, pisang, ubi jalar, singkong, dan labu merupakan sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, serta berbagai vitamin yang berperan dalam mendukung pemenuhan gizi tubuh," tambahnya.
Dari sudut pandang gizi, tren makanan kukusan dinilai sebagai tren positif karena sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan alami dan minim proses. Selain itu, metode pengolahan dengan cara dikukus atau direbus juga dianggap lebih sehat dibandingkan menggoreng.
"Pengukusan meminimalkan penggunaan minyak sehingga pangan menjadi lebih rendah lemak jenuh dan kalori," jelasnya.
Selain itu, suhu pengukusan yang relatif lebih rendah juga membantu mempertahankan kandungan nutrisi, terutama vitamin dan mineral. "Bahan pangan yang dikukus tidak kontak langsung dengan air, sehingga kehilangan vitamin dan mineral menjadi lebih kecil," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sejumlah bahan pangan justru sangat diuntungkan jika diolah dengan teknik kukus. Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, talas, dan kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Sayuran hijau dan berwarna cerah seperti brokoli, wortel, serta labu kuning kaya akan vitamin dan antioksidan.
Sementara itu, kacang-kacangan seperti kacang tanah dan edamame menjadi sumber protein nabati dan mineral. Jagung manis mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral, sedangkan telur yang dikukus dapat menjadi sumber protein hewani yang praktis dan sehat.
Menariknya, sebagian besar bahan pangan tersebut merupakan pangan lokal Indonesia. Selain mendukung pemenuhan gizi, kebiasaan mengonsumsi makanan kukusan juga berkontribusi pada penguatan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.




