Aparat keamanan Iran dituduh melakukan pembantaian massal dalam demo besar yang mengguncang negara itu sejak Desember lalu. Tuduhan tersebut disampaikan oleh LSM pemantau HAM di Iran, Iran Human Rights (IHR), pada Minggu (12/1).
Dalam laporan yang diterima IHR, tercatat 192 demonstran kehilangan nyawa selama aksi protes. Namun, mereka meyakini jumlah korban sebenarnya di lapangan jauh lebih tinggi.
IHR menegaskan angka-angka tersebut diperoleh dari jaringan mereka yang berada di Iran.
“Laporan yang belum diverifikasi menunjukkan bahwa setidaknya beberapa ratus, dan menurut beberapa sumber, lebih dari 2.000 orang mungkin telah tewas,” kata IHR seperti dikutip dari AFP.
“Kami mengecam pembunuhan massal dan kejahatan internasional besar terhadap rakyat Iran,” sambung mereka.
Adapun sebuah video yang direkam di sebuah kamar mayat di selatan Teheran memperlihatkan tumpukan jenazah demonstran. Video tersebut telah diverifikasi kebenarannya oleh kantor berita AFP.
Dalam video itu tampak mayat-mayat yang dibungkus kantong hitam. Di sekitar kantong jenazah tersebut terlihat anggota keluarga yang berduka.
Demo di Iran dipicu lonjakan biaya hidup. Kondisi diperparah dengan melemahnya nilai mata uang rial.
Awalnya, demo bermula di ibu kota Teheran. Namun kini aksi protes telah meluas ke berbagai kota lain dan berujung pada penentangan terhadap pemerintahan Republik Islam yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei.
Sejumlah media melaporkan demo kali ini merupakan yang terbesar sejak Revolusi Islam pada 1979.





