Lonjakan penjualan mobil di akhir tahun tak cukup menutup pelemahan pasar sepanjang 2025. Meski tembus 833.692 unit berkat pameran, penjualan mobil baru tetap turun 6,3% dibandingkan 2024 sejumlah 889.680 unit.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo mendata lonjakan penjualan dari diler ke konsumen pada akhir tahun sebesar 22,7% dari capaian Desember 2024 sejumlah 76.473 unit menjadi 93.833 unit. Angka tersebut menjadi penjualan tertinggi selama sebulan sepanjang 2025.
"Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan penjualan mobil jelang akhir tahun adalah beberapa pameran di daerah, salah satunya Makassar," kata Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara kepada Katadata.co.id, Senin (12/1).
Kukuh menyebutkan dua pameran besutan Gaikindo pada kuartal terakhir tahun lalu, yakni Gaikindo indonesia International Auto Show Makassar 2025 dan Gaikindo Jakarta Auto Week 2025. Namun Kukuh tidak menjelaskan lebih lanjut kontribusi kedua pameran tersebut ke penjualan mobil per Desember 2025.
Berdasarkan data Gaikindo, dua produsen kendaraan listrik atau EV berhasil masuk daftar 10 besar merek dengan penjualan tertinggi tahun lalu, yakni BYD dan VinFast. Secara rinci, BYD bertengger di peringkat keenam dengan angka penjualan 44.342 unit, sementara VinFast di peringkat ke-10 setelah berhasil memasarkan 10.630 unit.
Adapun merek mobil dengan penjualan tertinggi masih dimiliki oleh Toyota yang mencapai 258.268 unit. Dengan kata lain, pangsa pasar jenama asal Jepang tersebut hampir 31% dari total penjualan ritel tahun lalu.
Walau demikian, penjualan Toyota tercatat lebih rendah 12% dari capaian 2024 yang mencapai 293.788 unit. Sebelumnya, Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu mengatakan faktor utama penurunan penjualan mobil baru tahun lalu adalah daya beli.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menilai faktor utama lesunya penjualan mobil baru tahun lalu adalah bunga kredit. Menurutnya, rata-rata penurunan suku bunga kredit sangat lambat dibandingkan penurunan suku bunga acuan.
Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan hingga 1,25% pada tahun ini menjadi 4% pada November 2025. Namun suku bunga kredit baru turun 20 basis poin dari 9,2% pada awal 2025 menjadi 9%. Dengan demikian, efek perbaikan IKK pada November 2025 menjadi 124 poin tidak dapat diartikan sebagai peningkatan penjualan mobil baru.
Josua mengamati kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta per bulan mengalami penurunan indeks penghasilan pada November 2025. Alhasil, pembelian mobil baru pada Desember diprediksi belum akan naik lantaran -rata suku bunga pinjaman hanya turun 16 basis poin dari 9,23% pada Januari 2025 sebesar menjadi 9,07% pada September 2025.
Penurunan suku bunga pinjaman penting lantaran mayoritas pembelian mobil menggunakan skema kredit. Dengan demikian, mayoritas konsumen mobil memilah untuk menunda pembelian mobil baru sepanjang 2025.
"Ketika cicilan tidak banyak turun, kenaikan harga mobil sekecil apapun menjadi terasa besar bagi segmen utama yang sensitif harga. Alhasil, penundaan pembelian meningkat dan pilihan mobil bekas terlihat lebih menarik," katanya.



