Sudah dua pekan, banjir yang melanda wilayah Kabupaten Banjar masih merendam desa-desa di sejumlah kecamatan. Bahkan, banyak akses jalan yang hingga kini lumpuh total.
Akibat kondisi tersebut, banyak warga tidak dapat mencari nafkah, termasuk pedagang yang biasa berjualan nasi di depan rumah.
“Lokasi berjualan masih terendam banjir, jalan juga airnya masih tinggi. Jadi biarpun bisa berjualan, tidak ada juga yang beli,” ucap Asun, warga Desa Keramat Baru, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Sabtu (10/1/2026).
Ia menuturkan, selama banjir dirinya hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah, terutama sembako untuk kebutuhan makan sehari-hari. Pasalnya, selama dua pekan banjir, uang untuk modal berjualan sudah terpakai.
“Selama banjir, baru dua kali mendapat bantuan. Kemarin itu dapat mi instan dua bungkus, beras setengah liter, dan air mineral dua gelas,” ucapnya.
Meja Disusun Jadi KasurKarena lokasi tempat pengungsian cukup jauh dari kediamannya, Asun bersama keluarganya memilih bertahan dengan membuat panggung kayu di teras rumah untuk dijadikan tempat tidur selama banjir. Tak jarang, ia melihat hewan liar melintas di sekitar tempat tidur.
Akses TerputusJalan Makam di Desa Keramat Baru merupakan akses yang banyak dilalui warga dari Kota Martapura, Kabupaten Banjar, menuju Kota Banjarbaru, begitu pula sebaliknya. Namun, sejak terendam banjir pada pertengahan Desember 2025, jalan tersebut lumpuh total.
“Tinggi air di jalan masih sepaha orang dewasa. Jangankan roda dua, roda empat pun tidak bisa melintas di jalan ini,” katanya.
Jalan ini menjadi langganan banjir setiap tahunnya, bahkan durasi genangan bisa berlangsung hingga berbulan-bulan. Pernah ada wacana perbaikan jalan oleh Pemerintah Kabupaten Banjar, namun hingga kini belum terealisasi.
“Kita berharap ada solusi dari pemerintah agar banjir tidak lagi terjadi. Jadi bukan hanya bantuan saat banjir, namun pencegahan terjadinya banjir menjadi PR untuk Pemkab Banjar,” harapnya.



