JAKARTA, KOMPAS.com – Setiap tahun, sejumlah mahasiswa di Indonesia menuntaskan pendidikan sarjana dengan harapan bisa bekerja sesuai dengan jurusan yang mereka tempuh atau bidang yang dipelajari.
Empat tahun menjalani perkuliahan dipandang sebagai investasi besar, baik waktu, tenaga, maupun biaya, yang idealnya berujung pada pekerjaan yang sejalan dengan ilmu yang dipelajari.
Namun, realitas pasar kerja sering kali bergerak ke arah yang berbeda. Di tengah ketatnya persaingan kerja dan terbatasnya lapangan pekerjaan, sebagian lulusan perguruan tinggi justru menapaki jalur karier yang jauh dari disiplin ilmu yang mereka pelajari.
Baca juga: Pengakuan Mata Elang 6 Tahun Kerja: Tarik Motor di Jalan Itu Ulah Oknum
Bekerja di luar latar pendidikan bukan lagi fenomena asing. Bagi sebagian sarjana, pilihan tersebut diambil sebagai batu loncatan, sembari tetap menyimpan harapan untuk suatu hari kembali ke bidang yang pernah mereka cita-citakan.
Dari Bangku Penyiaran ke Etalase Toko VapeMasa transisi setelah kelulusan kerap menjadi fase yang paling menantang. Lamaran kerja dikirim ke berbagai perusahaan, wawancara diikuti, tetapi kepastian tak kunjung datang.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=indepth, kerja tak sesuai jurusan kuliah, bekerja tidak sesuai jurusan kuliah, bekerja tak sesuai ijazah&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMi8xNjI2MjI1MS9iZWtlcmphLXRhay1zZXN1YWktanVydXNhbi1rdWxpYWgtYW50YXJhLWJlcnRhaGFuLWhpZHVwLWRhbi1tZW5qYWdhLW1pbXBp&q=Bekerja Tak Sesuai Jurusan Kuliah, Antara Bertahan Hidup dan Menjaga Mimpi§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan hidup yang terus berjalan memaksa sebagian lulusan untuk mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia.
Situasi tersebut dialami oleh Dimas Khemal (24). Lulusan S1 Ilmu Komunikasi Penyiaran ini kini bekerja sebagai vaporista di sebuah toko vape.
Di luar itu, ia juga menjalani pekerjaan sebagai pengemudi ojek online (ojol) untuk menambah penghasilan harian.
Memilih jurusan Penyiaran bukan keputusan tanpa pertimbangan. Sejak awal kuliah, Dimas telah membayangkan masa depan yang berkaitan dengan dunia kreatif dan media.
Ia menaruh harapan dapat bekerja sesuai dengan kemampuan yang diasah selama perkuliahan.
“Untuk harapan setelah lulus dari jurusan yang dipilih, yaitu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, terlebih di bidang penyiaran, seperti fotografer," kata dia saat ditemui Kompas.com di rumahnya, wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2026).
Namun, harapan tersebut perlahan berhadapan dengan kenyataan dunia kerja yang tidak selalu menyediakan ruang bagi lulusan baru.
Kesenjangan antara keinginan dan peluang membuat Dimas harus menata ulang ekspektasinya.
Baca juga: Terbengkalai sejak 2007, Kenapa Menara Saidah Tak Dirobohkan?
“Ya sejak awal membayangkan akan bekerja sesuai di bidang seperti yang diinginkan, namun kenyataannya tidak demikian," katanya.
Ojol sebagai Pilihan TersisaSebelum bekerja sebagai vaporista, Dimas juga menjalani pekerjaan sebagai pengemudi ojol seutuhnya.
Pilihan tersebut kerap dipersepsikan sebagai bentuk keterpaksaan, tetapi tidak demikian bagi Dimas.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil dengan kesadaran penuh sebagai cara untuk bertahan secara ekonomi di masa transisi pascakelulusan.
“Memang pilihan saya, daripada menganggur," kata dia.
Seperti banyak lulusan baru lainnya, Dimas juga sempat mengalami masa menganggur setelah menyelesaikan kuliah.
Periode tersebut menjadi masa penuh ketidakpastian, di mana lamaran kerja terus dikirimkan tanpa kepastian hasil.
Di tengah situasi tersebut, pekerjaan sebagai pengemudi ojol menjadi alternatif agar tetap memiliki penghasilan.
“Sekitar delapan bulanan (menjadi ojol), di waktu itu juga saya tetap mengirim lamaran baik online maupun offline, hingga akhirnya mencoba peluang menjadi ojol untuk sehari-hari," ujarnya.
Tawaran Pekerjaan TetapSetelah menunggu berbulan-bulan, kesempatan bekerja akhirnya datang meski tidak seperti yang dibayangkan. Dimas tetap menganggapnya sebagai peluang nyata.
Baca juga: Leasing: 95 Persen Kendaraan yang Ditindak Mata Elang di Jalan Sudah Pindah Kepemilikan
Ia menuturkan bahwa ajakan bergabung di sebuah toko vape menjadi pintu masuknya ke dunia kerja yang kini ia jalani.
Bagi Dimas, keputusan tersebut bukan bentuk menyerah pada mimpi, melainkan langkah realistis agar tetap produktif sembari terus mencari peluang lain.
“Awalnya dari lingkungan pertemanan yang mengajak saya untuk bergabung, saya juga menganggapnya sebagai peluang," ujarnya.
Masuk ke dunia kerja yang tidak sejalur dengan pendidikan menuntut proses adaptasi yang tidak singkat.
Dimas harus mempelajari keterampilan baru, memahami ritme kerja yang berbeda, serta membangun ulang kepercayaan diri di bidang yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.




