Teheran Membara: Penembakan Warga, Ribuan Tewas, Rezim Iran Kehilangan Kendali

erabaru.net
11 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Gelombang aksi protes anti-pemerintah di Iran memasuki hari ke-14 pada Jumat, 10 Januari, dengan eskalasi yang kian tajam di berbagai wilayah, terutama di ibu kota Teheran. Meskipun rezim Iran memberlakukan pemblokiran total jaringan internet dan meningkatkan tindakan represif aparat keamanan, demonstrasi besar tetap berlangsung, khususnya di kawasan Heravi.

Di wilayah tersebut, ribuan pengunjuk rasa terdengar meneriakkan slogan, “Hanya setelah para mullah pergi, barulah kita memiliki negara,” sebagai simbol penolakan terhadap pemerintahan ulama yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Rekaman Bocor Tunjukkan Penembakan Warga Sipil

Sejumlah pengamat Iran mengunggah rekaman video terbaru di platform X yang diklaim bocor dari dalam negeri. Video tersebut memperlihatkan pasukan bersenjata menembaki warga sipil tak bersenjata di jalanan, memperkuat laporan mengenai meningkatnya kekerasan aparat terhadap massa demonstran.

Pada hari yang sama, Sabtu, sejumlah pejabat Iran dilaporkan meningkatkan intensitas penindasan dan mengeluarkan peringatan keras bahwa keamanan nasional merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. Pernyataan ini dipandang sebagai sinyal bahwa rezim siap menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan.

Laporan Korban Jiwa Capai Ribuan

Di tengah situasi yang semakin kacau, beredar laporan bahwa dalam 48 jam terakhir sedikitnya 2.000 orang di seluruh Iran tewas akibat bentrokan dan tindakan represif aparat. Angka ini belum dapat diverifikasi secara independen, namun mencerminkan tingkat kekerasan yang dilaporkan oleh berbagai sumber di dalam dan luar negeri.

Akibat memburuknya situasi keamanan, sejumlah maskapai internasional, termasuk Lufthansa dan Turkish Airlines, telah menangguhkan penerbangan ke Teheran dan beberapa kota besar lainnya di Iran. Meski demikian, pada malam hari, aksi protes tetap berlanjut di berbagai kota besar.

Persatuan Etnis Menggema di Tabriz

Di Tabriz, ibu kota Provinsi Azerbaijan Timur, massa demonstran meneriakkan slogan persatuan: “Orang Azerbaijan dan Persia bersatu, negara akan meraih kebebasan.” 

Seruan ini mencerminkan meluasnya perlawanan lintas etnis yang selama ini kerap dimanfaatkan rezim sebagai alat perpecahan.

Di kawasan Heravi, besarnya jumlah massa membuat aparat kesulitan melakukan penindasan, menciptakan situasi yang oleh pengamat disebut sebagai “mimpi buruk terburuk” bagi rezim Iran.

Starlink Aktif di Tengah Pemadaman Total

Sebuah video yang direkam di kawasan Gisha, Teheran, menunjukkan massa meneriakkan, “Tahun ini adalah tahun kekacauan, Khamenei akan digulingkan.” Video tersebut dilaporkan berhasil dikirim keluar Iran melalui jaringan Starlink, meski negara itu tengah mengalami pemadaman internet total.

Pada 9 Januari, Channel 14 Israel mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, menyebutkan bahwa Elon Musk secara diam-diam mengaktifkan layanan Starlink gratis bagi para pengunjuk rasa di Iran, memungkinkan warga tetap memiliki koneksi internet dasar di tengah pemutusan jaringan nasional.

Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa sejak 8 Januari, lalu lintas internet di Teheran dan berbagai wilayah lain anjlok tajam, menandakan terjadinya pemadaman komunikasi berskala besar. Iran juga dilaporkan mencoba menggunakan teknologi pengacauan sinyal satelit untuk memblokir akses Starlink.

Seorang blogger di platform X menulis bahwa Iran saat ini juga mengalami pemadaman listrik total, dengan hanya segelintir orang yang dapat terhubung ke Starlink. Rezim disebut secara aktif mengganggu dan merusak perangkat Starlink yang berhasil dioperasikan warga.

Dukungan Simbolik dan Moral dari Rakyat

Meski terisolasi dari dunia luar, jalanan Iran tetap dipenuhi massa. Para demonstran terus meneriakkan: “Selama para mullah belum lenyap, tanah ini tidak akan pernah merdeka.”

Berbagai foto yang beredar menunjukkan warga Iran berpose di sekitar perangkat Starlink, menampilkan simbol gunting dan empat layar ponsel dengan gambar “Tank Man Iran”, bendera Kerajaan Pahlavi, adegan Donald Trump dalam pertempuran, serta ilustrasi Musk berjabat tangan dengan Trump. Sejumlah warga menyampaikan pesan bahwa moral perlawanan tetap tinggi dan situasi masih dipandang optimistis.

Israel, AS, dan Sinyal Militer Global

Menurut laporan The Times of Israel, Wakil Kepala Kantor Perdana Menteri Israel, Cohen, baru-baru ini meminta seorang investor Israel-Amerika bernama Francis untuk menanyakan kepada tim Musk apakah Starlink dapat beroperasi di Iran saat pemutusan internet total. Musk dilaporkan berjanji mempertahankan layanan Starlink tetap gratis selama aksi protes berlangsung, serta memerintahkan jajaran eksekutifnya untuk mencegah gangguan teknis dari rezim Iran.

Pada hari yang sama, Sabtu, 10 Januari, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Hegseth, membagikan pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan menulis: “Kami tidak akan pernah melupakan dan tidak akan pernah menyerah.”

Pernyataan tersebut merujuk pada serangan besar-besaran militer AS dan pasukan mitra terhadap target ekstremis ISIS di Suriah pada sore hari 10 Januari, sebagai respons atas serangan kelompok tersebut pada Desember lalu yang menewaskan tiga warga Amerika. Washington menegaskan komitmennya untuk terus memburu ekstremis yang mengancam keselamatan warga AS di mana pun berada.

Rencana Kontinjensi AS terhadap Iran

Pada 10 Januari, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah menyusun rencana awal untuk kemungkinan menyerang Iran, termasuk opsi serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran. Diskusi tersebut mencakup penentuan lokasi potensial sebagai sasaran, meski hingga kini belum ada konsensus maupun pengerahan pasukan, dan pembahasan disebut masih bersifat rutin.

Trump sendiri menulis di Truth Social bahwa Iran sedang berjuang untuk kebebasan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan. Dia juga memperingatkan Teheran agar tidak menembaki rakyatnya, dengan ancaman balasan dari AS jika peringatan tersebut diabaikan.

Harapan Baru di Tengah Krisis

Sementara itu, Panahi, seorang tokoh Iran yang kini berada di luar negeri, menulis di platform X bahwa sejak ia dan keluarganya melarikan diri dari rezim Islam, ia tidak pernah kembali ke Iran. Menurutnya, dengan Trump kembali ke Gedung Putih, para pejuang kebebasan Iran kini melihat harapan baru untuk menantang dan mengalahkan kekuasaan para mullah fanatik.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
TNI dan Warga Gotong Royong Bersihkan Rumah Terdampak Banjir Aceh
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
SPPG Klarifikasi Video Viral MBG Bungkus Plastik
• 21 jam lalusuara.com
thumb
KPop Demon Hunters Jadi Film Animasi Terbaik Golden Globe Awards 2026
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Minta TNI-Polri Ajari Guru Sekolah Rakyat Berpakaian Rapi
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Fakta Film Papa Zola: Telan Produksi Rp 85 Miliar, Kalahkan Avatar di Malaysia
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.