JAKARTA, KOMPAS.com - Banjir yang kembali merendam sejumlah ruas jalan di Jakarta pada Senin, (12/1/2026) tidak hanya melumpuhkan arus lalu lintas, tetapi juga memotong penghasilan para pekerja kecil yang hidup dari ketepatan waktu.
Di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, genangan air membuat roda ekonomi tersendat bahkan sebelum kendaraan sampai ke tempat tujuan.
Dampak itu dirasakan langsung Aris, sopir pengantar batu es.
Perjalanan rutin yang biasanya dapat ditempuh tanpa hambatan berubah menjadi ujian panjang ketika banjir memaksa kendaraannya berhenti hampir satu jam di tengah kemacetan.
Baca juga: Waspada Macet, 39 Ruas Jalan di Jakarta Masih Banjir Senin Petang
Di dalam boks kendaraan, puluhan kilogram batu es yang seharusnya tiba dalam kondisi utuh perlahan mencair. Keterlambatan pengiriman menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=macet, banjir Jakarta, banjir, banjir jakarta hari ini, macet jakarta hari ini&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMi8xOTM5NDY0MS90ZXJqZWJhay1tYWNldC1ha2liYXQtYmFuamlyLXNvcGlyLWVzLWJhdHUtZGlwb3RvbmctZ2FqaS1rYXJlbmEtbXVhdGFu&q=Terjebak Macet akibat Banjir, Sopir Es Batu Dipotong Gaji karena Muatan Mencair§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `“Sekitar 20 kilogram es batu mencair,” kata Aris lirih, dikutip dari Wartakota.
Bagi Aris, banjir bukan sekadar waktu yang terbuang di jalan. Es batu yang rusak akibat keterlambatan pengiriman dihitung sebagai kerugian pribadi dan berujung pada pemotongan gaji.
Setiap kantong es yang mencair dihargai Rp 17.000, angka yang mungkin terlihat kecil, namun berarti besar bagi penghasilan harian seorang sopir distribusi.
“Iya, gaji dipotong,” ujarnya singkat.
Baca juga: BMKG Ungkap Penyebab Hujan Lebat di Jabodetabek Hari Ini yang Picu Banjir
Kerugian tersebut menambah daftar panjang dampak ekonomi banjir yang kerap luput dari perhatian.
Bagi pekerja lapangan seperti Aris, tidak ada jaring pengaman ketika cuaca ekstrem datang.
Risiko keterlambatan dan kerusakan barang harus ditanggung sendiri, meski penyebabnya berada di luar kendali mereka.
Aris mengaku tidak memiliki banyak pilihan saat banjir melanda.
Baca juga: BPBD DKI Peringatkan Cuaca Ekstrem di Jakarta hingga 13 Januari 2026
Dalam kondisi jalan terendam, memutar arah justru berisiko memperpanjang waktu tempuh dan memperparah kerusakan muatan. Menunggu air surut menjadi satu-satunya opsi yang tersedia.
“Kalau banjir begini, kami cuma bisa berharap cepat surut,” katanya.




