Penulis: Alfin
TVRINews, Semarang
Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Semarang kembali menghadirkan pentas wayang kulit sebagai upaya pelestarian budaya luhur bangsa. Kali ini, pentas menampilkan dalang kembar Bagas Setyanegara dan Brata Satrianegara yang membawakan lakon “Jarasandha Leno”, kisah yang bersumber dari epos Mahabharata.
Ketua Pepadi Kota Semarang, Anang Budi Utomo, mengatakan pementasan ini tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga sarat pesan moral yang relevan dengan kehidupan masa kini.
“Pada malam hari ini kami menggelar pentas wayang kulit dengan dalang kembar Bagas Setyanegara dan Brata Satrianegara, membawakan lakon Jarasandha Leno. Lakon ini merupakan bagian dari kisah Mahabharata yang penuh nilai filosofi dan keteladanan,” ujar Anang, dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin, 12 Januari 2026.
Ia menjelaskan tokoh Jarasandha dikenal sakti namun berwatak antagonis, dengan keistimewaan dua tubuh yang disatukan sehingga menjadi perwira sangat kuat.
“Jarasandha ini tokoh yang sakti, tetapi bersifat antagonis. Ia bermusuhan dengan Pandawa dan Karna karena dilatarbelakangi dendam, setelah anaknya, Prabu Kamsa, dibunuh oleh Prabu Kresna,” jelasnya.
Konflik mencapai puncak saat Jarasandha berhadapan dengan Werkudara atau Bimasena. Meski diserang dengan senjata Kuku Pancanaka berkali-kali, Jarasandha selalu hidup kembali.
“Dalam peperangan itu, Jarasandha sampai tujuh kali hidup kembali. Hingga akhirnya Prabu Kresna memberikan arahan bahwa Jarasandha berasal dari dua tubuh yang berbeda, sehingga harus dibelah dan dipisahkan. Dari situlah Jarasandha akhirnya tewas di tangan Bimasena,” imbuh Anang.
Anang menekankan cerita Jarasandha menjadi simbol bahwa kejahatan, sekuat apa pun, pada akhirnya kalah oleh kebaikan.
“Pesan yang bisa diambil sangat jelas. Jarasandha mewakili sifat kejahatan, sementara Pandawa dan Prabu Kresna adalah simbol ksatria dan kebaikan. Ketika kejahatan berhadapan dengan kebaikan, pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Anang menegaskan peran Pepadi Kota Semarang dalam mendukung dalang muda sekaligus menjaga eksistensi wayang kulit di tengah modernisasi.
“Tugas Pepadi adalah pelestarian dan pengembangan wayang. Ini adalah budaya luhur warisan nenek moyang kita. Di Kota Semarang, kami sepakat bahwa wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan dan tatanan kehidupan,” katanya.
Ia berharap seni wayang kulit terus menjadi benteng karakter bangsa di tengah gempuran budaya asing.
“Wayang sudah menjadi benteng budaya. Harapan kami, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu memperkuat karakter bangsa Indonesia agar tidak mudah tergerus oleh budaya luar yang berkembang pesat,” pungkas Anang.
Editor: Redaksi TVRINews



