Pernahkah Anda merasa hidup seperti terjebak dalam algoritma yang keliru? Di media sosial, ketika kita terus memberi atensi pada konten tertentu—terutama yang negatif—maka beranda (FYP) akan dipenuhi hal serupa. Anehnya, pola ini juga bekerja dalam kehidupan nyata.
Anda resign karena merasa atasan Anda toxic, tetapi di kantor baru justru bertemu sosok dengan karakter yang nyaris identik. Anda mengakhiri hubungan karena pasangan terlalu mengekang, namun orang berikutnya kembali menghadirkan pola kontrol yang sama. Kita sering mengira solusi terbaik adalah “klik blokir”: pergi, menjauh, atau memulai dari nol.
Padahal, melarikan diri tanpa refleksi hanyalah menunda pertemuan yang tak terelakkan. Masalah yang berulang bukanlah kesalahan sistem. Ia adalah sinyal bahwa ada pelajaran hidup yang belum sepenuhnya kita "unduh" dan pahami.
Paradoks Pelarian: Jebakan Avoidance Coping
Di era serba cepat, kita dimanjakan oleh solusi instan: ghosting, mematikan notifikasi, atau pindah lingkungan setiap kali konflik muncul. Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai avoidance coping—strategi menghindari pemicu stres alih-alih menyelesaikannya.
Penelitian dalam Journal of Anxiety Disorders menunjukkan bahwa perilaku menghindar justru memperkuat kecemasan dalam jangka panjang. Semakin sering kita menekan tombol “skip”, otak akan menandai masalah tersebut sebagai ancaman yang lebih besar dari realitasnya. Masalah yang tak diselesaikan akan berubah menjadi utang emosional—dan seperti utang pada umumnya, ia berbunga. Kita mungkin berhasil kabur hari ini, tetapi di persimpangan berikutnya, masalah itu akan muncul kembali dengan wajah berbeda, namun pola yang sama.
Saat Doa Tidak Mengubah Keadaan, tetapi Mengubah Kapasitas
Banyak orang kecewa ketika sudah berdoa meminta ketenangan, namun persoalan justru datang bertubi-tubi. Ini sering disalahartikan sebagai doa yang tidak dijawab. Padahal, bisa jadi jawabannya bukan berupa penghapusan badai, melainkan peningkatan kapasitas diri.
Doa tidak selalu bertujuan meratakan gunung di depan kita, melainkan menguatkan kaki agar sanggup mendakinya. Ketika tantangan lama datang kembali, itu mungkin bukan hukuman—melainkan kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa kita telah bertumbuh dibanding versi diri kita yang dulu.
Ironi Kebencian: Ketika Masalah Terlihat Semakin Nyata
Ada ironi dalam psikologi sosial: apa yang paling kita benci justru sering terasa paling dominan di sekitar kita. Mekanisme ini dikenal sebagai selective attention—otak cenderung memindai hal-hal yang sesuai dengan fokus emosional kita.
Jika kita memiliki kebencian mendalam pada karakter tertentu, radar mental kita akan secara otomatis mencari dan menemukan karakter tersebut di kerumunan mana pun. Pengalaman pribadi mengajarkan saya bahwa kebencian terhadap rekan kerja yang tidak kompeten sering kali mencerminkan ketidakmampuan saya dalam menetapkan batasan (boundaries), serta ketakutan saya sendiri terhadap ketidaksempurnaan. Saat “sistem internal” saya diperbaiki, dunia di luar tidak serta-merta berubah menjadi ideal, tetapi cara saya meresponsnya berubah total. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Debug Kehidupan: Cara Memutus Pola Masalah Berulang
Agar tidak terus terjebak dalam glitch yang sama, berikut beberapa langkah praktis yang terinspirasi dari prinsip exposure therapy:
Audit Algoritma (Pattern Spotting): Catat tiga konflik terbesar yang Anda alami tahun ini. Cari benang merahnya. Apakah Anda sulit berkata “tidak”? Apakah Anda selalu menghindari konfrontasi? Kesadaran akan pola adalah separuh dari proses perubahan.
Lakukan Micro-Confrontation: Jangan menunggu konflik meledak. Hadapi ketidaknyamanan dalam dosis kecil. Berani berbeda pendapat dalam hal sepele—seperti memilih tempat makan—akan melatih "otot" keberanian Anda sebelum menghadapi masalah yang lebih besar.
Perbarui Narasi Internal: Ganti pertanyaan, “Kenapa ini muncul lagi di FYP hidupku?” menjadi, “Apa pelajaran yang harus kupelajari agar bisa naik level?” Pergeseran ini memindahkan otak dari mode bertahan (survival) ke mode belajar (learning).
Pasang Firewall, Bukan Airplane Mode: Bangun batasan yang sehat, bukan pelarian total. Sering kali masalah bukan terletak pada dunia luar, melainkan pada ketiadaan sistem perlindungan (ego yang sehat) di dalam diri kita.
Berhenti Berlari, Mulailah Berdiri
Melarikan diri hanya akan membuat kita lelah tanpa benar-benar berpindah tempat. Masalah akan terus mengejar sampai kita berani berhenti dan menatapnya tepat di mata. Riset dalam Psychological Science menunjukkan bahwa individu yang menghadapi tantangan secara langsung memiliki tingkat resiliensi yang jauh lebih tinggi.
Hidup akan terus mengulang pelajaran yang sama sampai kita benar-benar lulus. Jadi, ketika hidup kembali menyuguhkan masalah yang terasa familiar, jangan siapkan sepatu lari Anda. Siapkan mental Anda. Hadapi sekarang, sebelum hidup memaksa kita menghadapinya nanti dengan beban yang jauh lebih berat.




