Bisnis.com, JAKARTA — PT Gadai ValueMax Indonesia menilai kenaikan harga emas berpotensi mendorong peningkatan pembiayaan gadai secara nominal. Namun, perseroan menegaskan strategi pertumbuhan tetap diarahkan pada perluasan transaksi dan akuisisi nasabah baru agar penyaluran pembiayaan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Direktur Utama Gadai ValueMax Indonesia Brian Wiraatmadja mengatakan lonjakan harga emas memengaruhi minat masyarakat untuk melakukan gadai baru maupun penambahan (top up) pinjaman pada gadai emas yang sudah berjalan. Kondisi tersebut terjadi seiring penyesuaian rasio pinjaman terhadap nilai agunan (loan to value/LTV) mengikuti tren kenaikan harga emas.
Karena itu, Gadai ValueMax Indonesia secara berkala memantau moving average pergerakan harga emas dan menyesuaikannya dengan ketentuan LTV serta patok taksiran internal. Langkah ini ditempuh untuk menjaga ruang pengaman (buffer) margin operasional transaksi gadai di jaringan cabang.
Baca Juga
- Kurs Rupiah Turun 7 Hari Beruntun Saat APBN 2026 Diperkirakan Bakal Minus di Atas 3%
- Manajer Investasi Reksa Dana Xdana Syariah Pilih Tutup Bisnis
- Cara Menkeu Purbaya Kejar Target Pajak usai Defisit Melebar & Tagihan Restitusi Ratusan Triliun Masuk
Di sisi produk, perseroan juga melakukan diversifikasi barang jaminan guna menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang dinamis, antara lain melalui gadai BPKB mobil, elektronik, barang bermerek, serta kendaraan bermotor. Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk memitigasi risiko usaha termasuk menjangkau pasar baru.
Perseroan juga tidak hanya mengandalkan nasabah eksisting namun terus menjangkau lebih banyak nasabah. “Dengan tetap selalu menjaga kualitas barang jaminan dan due diligence terhadap nasabah,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (12/1/2026).
Sebagai informasi, pada Desember 2025 Gadai ValueMax Indonesia mencatatkan omzet Rp500 miliar, meningkat 500% year on year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.




