JAKARTA, DISWAY.ID-- Temuan kasus kematian pasien yang terpapar Super Flu di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mendadak jadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta publik untuk tetap tenang dan tidak terseret dalam arus kepanikan atau paranoid seperti masa awal pandemi COVID-19.
BACA JUGA:Ratusan Kader Umat Islam Desak Komdigi Take Down 'Mens Rea' Pandji yang Tayang di Netflix
BACA JUGA:Kelakar Beckham Usai Bawa Persib Menang atas Persija: Mereka Terpancing Ketengilan Saya
Menurut Menkes, meski nama "Super Flu" terdengar mengancam, secara medis virus ini bukanlah entitas baru yang muncul secara tiba-tiba. Virus yang diidentifikasi sebagai varian H3N2 ini diklaim sudah beredar selama bertahun-tahun di lingkungan manusia.
Bukan Ancaman Baru Setingkat Pandemi
Dalam penjelasannya kepada media, Budi Gunadi menekankan perbedaan mendasar antara virus penyebab COVID-19 dengan H3N2.
Ia menyebut sistem imun manusia sudah jauh lebih siap menghadapi flu jenis ini karena sudah lama beredar (endemis).
BACA JUGA:AHM Dukung Pemulihan Bencana Sumatera, Ada Layanan Service Motor Gratis Hingga Sarana Air Bersih
BACA JUGA:Rayakan 5 Abad Jakarta, Real Madrid Vs Barcelona Legends Siap Getarkan GBK!
"Ini flu lama, bukan baru. Beda dengan COVID yang dulu virusnya benar-benar baru sehingga imun sistem kita tidak siap dan risiko meninggalnya besar," ujar Menkes saat konferensi pers via Zoom, Senin 12 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa bagi individu dengan kondisi tubuh yang sehat, sistem imun alami manusia sebenarnya mampu mengatasi serangan virus ini tanpa bantuan medis yang luar biasa.
"Jadi teman-teman tidak usah terlalu khawatir seperti saat COVID dulu," tambahnya.
Logika "Inang" dan Mutasi Virus
Mengenai laporan adanya pasien meninggal di Bandung, Menkes memberikan pembelaan bahwa faktor penyebab utamanya bukan murni karena virus flu tersebut. Ia menyebut pasien yang bersangkutan memiliki komorbid atau penyakit penyerta yang berat.
- 1
- 2
- »





