WAKIL Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie menegaskan, penelitian tentang musik dan brain di Indonesia masih sangat minim. Sementara kekayaan musik di Indonesia mulai dari musik tradisional hingga musik modern sangat luar biasa.
Hal ini disampaikan Prof. Stella Christie saat membuka diskusi bertajuk "Music and Brain'" yang digelar Kampus IUD di kawasan ekonomi khusus (KEK) Kura-Kura Bali Minggu malam (11/1/2026). Masih minimnya penelitian tentang musik dan brain tersebut akhirnya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menghadirkan kolaborasi unik antara seni dan ilmu pengetahuan dengan menghadirkan para peneliti dunia terutama dari Tsinghua University dan Tsinghua South East Asia Center, University of California, San Francisco (UCSF dan juga beberapa peneliti dari Indonesia.
Mereka akan melakukan riset khusus tentang music dan brain dimana musik disebut bisa merangsang otak manusia yang harus didukung secara riset atau keilmuan. Para ilmuwan dunia dalam bidang riset musik dan brain ini akan berdiskusi dan bertukar pengalaman riset mengenai pengaruh musik terhadap kecerdasan otak, kesehatan mental, dan kreativitas.
Menurut Prof. Stella Christie, Kemdiktisaintik sudah memulai penelitian tentang musik dan brain sejak tiga tahun lalu. Namun ia mengakui jika hal ini masih sangat minim.
"Kita harus melihat sains-nya. Bagaimana manfaat musik bagi otak, bagi kesehatan, bagi pola perilaku manusia. Hasil diskusi tadi memperlihatkan bahwa waktu improvisasi musik, hasil riset dari Prof. Charles Limb dari University of California, San Francisco (UCSF) memperlihatkan ada area di otak yang diaktifkan dengan sangat sempurna. Dan dari semua area itu, ada yang disebut reward area yang paling aktif. Memori atau daya simpan meningkat. Jadi anak-anak yang melakukan improvisasi musik maka reward area di otaknya akan meningkat lebih pesat, yang menimbulkan rasa bahagia, rasa senang, dibandingkan dengan memainkan musik yang sudah ada," ujarnya.
Kehadiran Prof. Limb memberikan pemahaman kepada masyarakat dan kalangan akademik terkait hubungan musik dengan otak, termasuk manfaatnya terhadap kesehatan neurologis. "Mengapa riset ini sangat penting? Karena Indonesia sangat kaya akan musik, mulai musik tradisional, seperti gamelan dan sebagainya hingga musik modern. Dan ini harus diberdayakan, dimanfaatkan bagi kecerdasan otak warga Indonesia," ujarnya. Musik merupakan hal yang dekat dengan masyarakat dan menjadi medium yang mengandung proses kompleks di dalam otak. Musik dapat mempengaruhi proses otak sekaligus berdampak pada kesehatan. “Musik membutuhkan proses otak, dan berdasarkan penelitian, musik memiliki pengaruh pada proses otak dan kesehatan,” ujar Stella Christie.
Ia menambahkan bahwa workshop ini merupakan bagian dari upaya Kemdiktisaintek untuk memperluas akses pengetahuan sains dan teknologi kepada masyarakat, termasuk dalam topik lintas bidang seperti seni musik dan neurosains. Stella Christie juga menyinggung dukungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terhadap musik dan ilmu pengetahuan sebagai upaya memperkuat persatuan.
“Presiden Prabowo memiliki cinta besar terhadap musik. Musik membawa persatuan. Ada juga cinta kedua Presiden Prabowo, yaitu ilmu pengetahuan. Kami di kementerian bekerja keras untuk mewujudkan visinya,” jelasnya.
Saat diskusi berlangsung, dari perspektif neurosains, Prof. Charles Limb menekankan bahwa musik memiliki peran yang melampaui hiburan. Menurutnya, fakta bahwa musik hadir di hampir seluruh kebudayaan manusia menunjukkan bahwa musik punya nilai biologis dasar, khususnya dalam kaitannya dengan kesehatan mental dan hubungan sosial. “Semua budaya sepanjang keberadaan manusia pada dasarnya memiliki musik. Keberadaannya sepanjang sejarah manusia menyiratkan bahwa musik penting pada tingkat biologis yang sangat mendasar,” paparnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam kegiatan bermusik untuk membantu menjaga fungsi otak, tanpa harus mengejar tujuan tampil atau kemampuan teknis. Prof. Limb menekankan bahwa yang terpenting adalah proses berpikir musikal yang berdampak baik pada kerja otak.
Sementara itu, Director of Tsinghua Lab of Brain and Intelligence, Xiaoqin Wang, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas budaya menjadi aspek penting dalam penelitian otak dan kecerdasan.
Menurutnya, manusia yang hidup di lingkungan budaya berbeda akan membentuk cara kerja otak yang juga berbeda. "Ketika kita melihat individu yang hidup dalam lingkungan budaya yang berbeda di Tiongkok dan Indonesia, otak kita mencerminkan budaya dan latar belakang yang berbeda,” ujar Xiaoqin Wang.
Ia juga menyebut perkembangan teknologi di Tiongkok, termasuk komputasi dan kecerdasan buatan, dapat memperkuat kerja sama riset dengan Indonesia. Indonesia dinilai memiliki keunikan berupa keragaman budaya, kondisi geografis, serta konteks sosial yang sangat potensial untuk pengembangan studi neurosains berbasis komunitas.
Melalui kegiatan tahunan “Music and Brain”, Kemdiktisaintek berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman publik dan akademisi terhadap hubungan antara sains dan teknologi dengan bidang kesenian khususnya musik, serta keterkaitannya dalam kesehatan neurologi. Selain itu, acara ini juga diharapkan memperluas wawasan masyarakat tentang manfaat musik sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak. (H-2)




