Greenland kerap dibayangkan sebagai hamparan es tanpa ujung. Dingin, sepi, dan jauh dari hiruk-pikuk geopolitik global. Di balik lapisan es yang menutupi sekitar 80 persen wilayahnya, Greenland sebenarnya menyimpan salah satu “arsip geologi” paling ekstrem di planet ini dan punya potensi sumber daya alam yang bikin banyak negara besar pasang mata.
Secara geologi, Greenland adalah anomali. Pulau terbesar di dunia ini mencatat sejarah pembentukan Bumi selama lebih dari empat miliar tahun. Artinya, hampir semua fase besar evolusi kerak Bumi—dari tabrakan lempeng, pembentukan pegunungan, aktivitas vulkanik, hingga pemekaran kerak (rifting)—pernah terjadi di sini. Kombinasi proses inilah yang menjadikan Greenland sangat kaya akan mineral dan energi.
Salah satu daya tarik utamanya adalah rare earth elements atau unsur tanah jarang. Nama ini memang terdengar “langka”, tapi sebenarnya bukan karena jumlahnya sedikit, melainkan karena jarang terkonsentrasi dalam satu lokasi. Namun Greenland adalah pengecualian.
Beberapa deposit di bawah esnya diyakini termasuk yang terbesar di dunia, dengan potensi menyuplai lebih dari seperempat kebutuhan global di masa depan.
Rare earth elements bukan komoditas biasa. Elemen seperti neodymium dan dysprosium adalah komponen kunci magnet kuat yang digunakan pada turbin angin, motor kendaraan listrik, hingga perangkat elektronik canggih. Singkatnya: tanpa unsur ini, transisi energi hijau bakal pincang.
Bukan cuma itu. Greenland juga menyimpan cadangan lithium, atau logam penting untuk baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Di tengah lonjakan permintaan global dan ketergantungan dunia pada segelintir negara produsen, temuan ini membuat Greenland naik kelas dari “wilayah terpencil” menjadi aset strategis.
Potensi energi fosil juga tidak bisa diabaikan. Struktur sedimen di beberapa wilayah Greenland punya kemiripan dengan cekungan minyak dan gas besar di Laut Norwegia. Secara teori, cadangan hidrokarbonnya signifikan. Namun, eksploitasi sumber daya ini masih dibatasi oleh regulasi ketat dan pertimbangan lingkungan.
Jonathan Paul, Associate Professor in Earth Science di Royal Holloway, University of London dalam tulisannya di Science Alert menyebut, Badan Survei Geologi AS memperkirakan bahwa daratan Greenland timur laut (termasuk daerah yang tertutup es) mengandung sekitar 31 miliar barel setara minyak dalam hidrokarbon. Angka ini setara dengan seluruh volume cadangan minyak mentah milik AS.
Sejarah mencatat, penambangan di Greenland bukan hal baru. Sejak abad ke-18, logam seperti timbal, tembaga, besi, dan seng sudah diekstraksi dalam skala terbatas. Bedanya, sekarang taruhannya jauh lebih besar. Teknologi modern, krisis iklim, dan kebutuhan global akan bahan baku energi bersih membuat potensi Greenland terlihat jauh lebih “menggiurkan” dibandingkan sebelumnya.
Di sinilah paradoks besar muncul. Banyak sumber daya ini terkunci di bawah es. Namun, perubahan iklim justru membuka akses ke wilayah yang sebelumnya tidak tersentuh. Saat lapisan es mencair, eksplorasi jadi lebih mudah—tapi risikonya juga meningkat. Pencairan es Greenland berkontribusi langsung pada kenaikan permukaan laut global, yang dampaknya dirasakan jauh di luar kawasan Arktik.
Secara politik, situasinya juga rumit. Greenland adalah wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark, dengan hak mengatur sumber daya alamnya sendiri. Namun, kepentingan negara-negara besar mulai dari Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga China tak bisa dilepaskan dari diskusi soal masa depan pulau ini. Ketergantungan dunia pada rantai pasok mineral kritis membuat Greenland semakin strategis, bukan hanya secara ekonomi, tapi juga geopolitik.
Greenland menjadi salah satu wilayah yang kini sedang diincar oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar menjadi bagian dari Negeri Paman Sam.
Pemerintah Greenland sendiri kini bagai berada di posisi serba sulit. Di satu sisi, eksploitasi sumber daya bisa mendukung kemandirian ekonomi dan membuka lapangan kerja. Di sisi lain, ada kekhawatiran besar soal dampak lingkungan dan perubahan cara hidup masyarakat lokal, terutama komunitas Inuit yang sangat bergantung pada alam.
Greenland, pada akhirnya, bukan sekadar pulau es. Ia adalah simpul pertemuan antara sejarah Bumi, krisis iklim, teknologi masa depan, dan perebutan pengaruh global. Apa yang terjadi di sana dalam beberapa dekade ke depan kemungkinan besar akan berdampak jauh melampaui batas geografisnya bahkan sampai ke kehidupan sehari-hari kita, dari ponsel di tangan hingga listrik yang menyalakan rumah.




