JAKARTA, DISWAY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kepada masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan cuaca.
Pasalnya, terdapat potensi gangguan cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi pada 13–14 Januari 2026 di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi cuaca yang perlu diantisipasi meliputi hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang sehingga berdampak pada aktivitas harian masyarakat.
Menurut pemantauan resmi dari BMKG, dinamika atmosfer saat ini masih berada dalam fase aktif.
Situasi tersebut berpotensi memicu pembentukan awan hujan secara masif di berbagai daerah, khususnya di wilayah Sumatera bagian barat, Pulau Jawa bagian tengah dan selatan, serta kawasan Indonesia timur seperti Maluku.
BACA JUGA:Jadwal dan Jam Tayang Semifinal Carabao Cup 2025/26, Derby London dan Duel Panas di St James' Park!
BMKG menjelaskan bahwa pola cuaca bulan Januari 2026 ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan dipengaruhi oleh interaksi beberapa fenomena atmosfer global dan regional.
Di antaranya adalah sisa pengaruh La Nina dengan intensitas lemah, pergerakan angin Monsun Asia yang membawa massa udara basah.
Selain itu ada peningkatan aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), serta kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S di sekitar perairan selatan Indonesia.
Gabungan faktor-faktor tersebut menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan awan hujan yang dapat menghasilkan curah hujan signifikan dalam waktu singkat, sehingga meningkatkan risiko cuaca ekstrem di beberapa wilayah.
BACA JUGA:Kondisi Cuaca Jakarta Diguyur Hujan Deras dan Angin Kencang Seharian, BMKG Imbau Warga Waspada Banjir!
Kondisi Curah Hujan Nasional Masih TerkendaliMeski terdapat potensi cuaca ekstrem di sejumlah daerah, BMKG memastikan bahwa secara umum kondisi curah hujan Indonesia pada tahun ini masih berada dalam batas normal.
Bahkan, musim hujan 2026 dinilai relatif lebih stabil dan tidak seburuk periode sebelumnya.
Berdasarkan proyeksi BMKG, sekitar 94 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan tahunan dalam kisaran normal, yakni antara 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun.
Kondisi ini dianggap cukup mendukung keseimbangan lingkungan, pertanian, dan ketersediaan air.
- 1
- 2
- »




