JAKARTA, KOMPAS — Banjir masih menggenangi 22 rukun tetangga dan 5 ruas jalan di Jakarta hingga Selasa (13/1/2026) pagi. Akibatnya, 1.137 warga mengungsi. Pemicunya ialah hujan lebat hingga ekstrem dan luapan kali yang melebihi daya tampung infrastruktur pengendalian banjir skala mikro dan makro.
Kedua infrastruktur pengendalian banjir itu dirancang untuk curah hujan 100 milimeter (mm) per hari dan 150 mm per hari. Namun, hujan yang mengguyur Jakarta pada Senin (12/1/2026) lebih dari 150 mm per hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta melaporkan, hingga Selasa pukul 08.00 WIB, banjir masih menggenangi 9 rukun tetangga (RT) di Jakarta Barat (Jakbar). Di Kelurahan Tegal Alur, ketinggian air 30-35 sentimeter (cm), sedangkan Kelurahan Kedoya Selatan sekitar 30 cm.
Sementara itu, di Jakarta Utara (Jakut), banjir menggenangi 13 RT. Lokasinya tersebar di Kalibaru, Semper Barat, Sukapura, Lagoa, Tanjung Priok, dan Warakas dengan ketinggian air 10-35 cm.
Selain permukiman, banjir menggenangi lima ruas jalan. Jalan Kampung Bahari, Jalan Gunung Sahari, Jalan RE Martadinata, Jalan Syech Nawawi Al Bantani, dan Jalan Muara Baru tergenang setinggi 10-20 cm.
Banjir kali ini memaksa 1.137 warga di Jakbar dan Jakut mengungsi. Titik pengungsian di Jakbar ialah Tegal Alur yang terdiri dari 130 jiwa. Mereka mengamankan diri di rusun dan 23 jiwa di RPTRA Alur Anggrek.
Di Jakut, 625 warga Semper Barat mengungsi ke Rusun Embrio. Lokasi pengungsian lain tersebar di Gedung Pelayanan Masyarakat RW 013 Kalibaru yang menampung 68 warga, bengkel mobil di Gading Griya Lestari Sukapura dialihfungsikan jadi posko bagi 91 orang, 175 warga di Warakas, serta dua titik di Lagoa, yakni Masjid Al Barokah bagi 20 warga dan Sekretariat RW 005 dengan 5 orang.
Kepala Pelaksana BPBD Jakarta Isnawa Adji mengatakan, menurut rencana ada operasi modifikasi cuaca (OMC) berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
”OMC hari ini sampai lima hari ke depan. Selanjutnya, BPBD Jakarta bisa melanjutkan. Tentunya berdasarkan hasil prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” kata Isnawa.
OMC merupakan penyemaian awan menggunakan garam untuk menarik uap air di atmosfer dan mempercepat kondensasi sehingga hujan lebih cepat turun. Hal tersebut dilakukan untuk mengubah kondisi cuaca, khususnya mengurangi curah hujan dan mencegah atau mengurangi dampak bencana, seperti banjir.
Dinas Sumber Daya Air Jakarta melaporkan hujan ekstrem mulai Senin pagi hingga siang. Hujan dominan turun di Jakut.
Pemantauan pada Senin pukul 13.00 menunjukkan curah hujan hingga 198 mm per hari di Kamal Muara, 186 mm per hari di Koja, 178 mm per hari di Ancol Flusing, Pintu Air Marina 171 mm per hari, dan Rumah Pompa Waduk Pluit 161 mm per hari.
Sementara itu, wilayah lain mengalami hujan sangat lebat, di atas 100 mm per hari. Wilayah tersebut ialah Kali Duri 130 mm per hari, Sunter Jaya 124 mm per hari, Rorotan 116 mm per hari, Yos Sudarso 114 mm per hari, Kelapa Gading Timur 106 mm per hari, dan Jembatan Merah 105 mm per hari.
”Intensitas hujan ini sudah di atas kapasitas kemampuan Infrastruktur Jakarta,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Sumber Daya Air Jakarta Hendri.
Sebanyak 612 pompa stasioner di 211 lokasi dan 590 pompa mobile di lima wilayah administratif disiagakan menghadapi banjir. Pompa mobile digunakan untuk menjangkau lokasi banjir yang tidak terlayani pompa stasioner.
Warga diimbau tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi banjir. Pemantauan tinggi muka air dapat dicek di https://poskobanjirdsda.jakarta.go.id, aplikasi JAKI, atau menghubungi 112 jika kondisi darurat.




