Cinta yang Terhalang Tembok Emosional: Mengurai Sikap Dingin Pasangan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dalam dinamika hubungan romantis, sikap cuek dari pasangan kerap kali menjadi keluhan yang umum. Banyak yang merasa tidak mendapat perhatian, kasih sayang, atau kehangatan yang mereka harapkan. Namun, di balik sikap dingin dan menjaga jarak tersebut, sering tersembunyi pengalaman emosional yang lebih dalam luka dari masa lalu.

Sikap cuek ini tidak selalu berarti tidak peduli. Dalam banyak kasus, itu adalah bentuk perlindungan diri. Seseorang yang pernah disakiti, dikhianati, atau mengalami hubungan yang tidak sehat cenderung membangun tembok emosional. Mereka menjadi lebih berhati-hati, menjaga jarak, dan membatasi ekspresi kasih sayang karena takut mengalami luka yang sama.

Secara psikologis, ini dikenal sebagai mekanisme coping atau bisa dikatakan upaya penyesuaian diri dengan cara seseorang bertahan dari luka emosional yang belum sembuh. Meski masih memiliki keinginan untuk menjalin hubungan yang sehat, mereka bisa mengalami keterikatan emosional yang terputus (emotional detachment). Bukan karena tidak punya perasaan, tetapi karena takut kehilangan kendali, takut kembali disakiti, atau dimanipulasi.

Fenomena ini cukup umum, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh di era media sosial. Banyak yang belajar soal cinta dari tayangan atau unggahan online, namun belum cukup matang secara emosional untuk menghadapi kompleksitas hubungan nyata. Mereka yang pernah mengalami ghosting, perselingkuhan, atau gaslighting sering kali merasa sulit untuk kembali membangun kepercayaan bahkan dalam hubungan yang sebenarnya sehat.

Dalam kondisi seperti ini, penting bagi pasangan untuk tidak terburu-buru menilai atau menghakimi. Yang dibutuhkan adalah komunikasi terbuka, empati, dan kesediaan untuk tumbuh bersama dalam proses penyembuhan. Hubungan yang sehat bukan tentang dua orang yang sempurna secara emosional, tetapi tentang dua orang yang saling memahami dan mau bertumbuh bersama.

Sikap cuek bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang berjuang. Jika didekati dengan pemahaman yang tepat, sikap itu justru bisa membuka jalan untuk membangun kedekatan secara perlahan. Karena sejatinya, cinta bukan tentang menuntut, tetapi tentang keberanian untuk memahami luka yang tidak selalu tampak di permukaan.

Sering ditemukan, perubahan sikap pasangan yang tiba-tiba menjadi dingin atau tak lagi hangat sering kali membuat pasangannya merasa ditolak atau tidak dicintai lagi. Padahal, perubahan ini bisa saja berasal dari dinamika emosi yang tak mereka ungkapkan secara langsung. Ketika seseorang terlihat menjauh atau tidak menunjukkan rasa sayang seperti sebelumnya, bukan berarti rasa itu benar-benar hilang.

Bisa jadi, itu adalah cara mereka menghadapi kecemasan emosional yang belum selesai. Dibalik sikap pasif itu, tersimpan harapan untuk dipahami tanpa harus selalu dijelaskan. Maka, daripada mengartikan sikap tersebut sebagai akhir dari sebuah hubungan, lebih bijak jika kita melihatnya sebagai awal dari proses saling mengenal lebih dalam bukan hanya siapa dia hari ini, tetapi juga luka-luka yang membentuknya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Keracunan MBG di Grobogan: Korban Alami Gejala Mual-Muntah, 113 Dirujuk ke Fasilitas Kesehatan
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
PB Kopri Tekankan Partisipasi Publik dan Keterwakilan Perempuan dalam Pemilihan Kepala Daerah​​​​​​​
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BRIN Fokus Riset Ketahanan Pangan, Kebencanaan, dan Teknologi Strategis pada 2026
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Berkas Roy Suryo Cs Dilimpahkan ke Kejaksaan, Kapan Tersangka Fitnah Ijazah Palsu Jokowi Disidang?
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Real Madrid Pecat Xabi Alonso, Tunjuk Alvaro Arbeloa sebagai Pengganti
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.