Hawa sejuk menyergap kami ketika memasuki gerbang Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa di Cimungkad, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pertengahan Desember 2025. Gedung yang berada di dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango begitu sejuk dinaungi vegetasi pohon damar (Agathis dammara), yang berbatang lurus dan daun rimbun.
Sebagai penanda, berdiri patung elang jawa yang tengah mengangkat kedua sayapnya di tengah hutan damar ini. Seolah berbicara kepada kami semua, dialah raja dirgantara hutan jawa.
Berjalan ke dalam melalui jalan setapak berundak, kita pun tiba di Museum Bartels. Museum tersebut berdiri di lahan, yang pada era kolonial merupakan rumah kediaman keluarga Max Eduard Gottlieb Bartels. Pria berkebangsaan Jerman yang menemukan elang jawa (Nisaetus bartelsi).
Kediaman keluarga Bartels hanya menyisakan puing dan fondasi di sekeliling bangunan. Konon, dulu rumah keluarga Bartels cukup luas. Bahkan, terdapat kolam renang di sana.
Di bagian depan museum terdapat batu nisan MEG Bartels. MEG Bartels sendiri, yang meninggal dunia pada 1936, dimakamkan tak jauh dari lokasi berdirinya bangunan museum.
Di dalam museum terdapat dua foto berikut patung separuh MEG Bartels dan putra tertuanya, Max Bartels.
Max Bartels yang kemudian melanjutkan ketekunan ayahnya meneliti elang jawa. Di antara kedua patung terdapat patung taksidermi elang jawa, yang ditempatkan di dalam kotak kaca.
Di sudut lain, terdapat foto dokumentasi kegiatan Bartels semasa hidupnya yang didedikasikan untuk elang jawa. Bartels, yang hobi berburu, menjelajahi berbagai daerah menggunakan mobil.
Peresmian Museum Bartels menjadi bagian dari peringatan Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa. Puncaknya ditandai dengan pelepasliaran seekor elang jawa, yang diberi nama Raja Dirgantara di Danau Situ Gunung oleh Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Basuki didampingi Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Satya Pudyatmoko dan Direktur Program Bakti Lingkungan Djarum Foundation Jemmy Chayadi.
Elang jawa yang menjadi hewan mitologi dari simbol negara burung Garuda adalah salah satu spesies terancam punah dengan status critically endangered. Saat ini, ancaman utama bagi konservasi elang jawa adalah degradasi hutan dan perdagangan satwa.
Rohmat menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menjaga populasi elang jawa yang saat ini diperkirakan tersisa 600-700 ekor di habitat alaminya. Konservasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor swasta.
”Elang jawa adalah indikator kesehatan ekosistem hutan Jawa. Kita harus memastikan habitatnya tetap lestari agar populasinya dapat meningkat,” kata Rohmat.



