TABLOIDBINTANG.COM - Pernah bertanya-tanya mengapa para chef di dapur profesional terlihat santai saat memotong bawang, sementara kita di rumah sering kali harus mengusap air mata? Padahal, bawang yang dipotong sama-sama bawang bombai. Ternyata, rahasianya bukan soal kebal air mata, melainkan terletak pada ketajaman pisau yang digunakan.
Jika seorang chef harus terus menangis setiap kali memotong bawang, tentu pekerjaan di dapur restoran akan sangat terhambat. Namun faktanya, hal tersebut hampir tidak pernah terjadi. Chef profesional umumnya menggunakan pisau dengan tingkat ketajaman tinggi, jauh berbeda dengan pisau dapur rumahan pada umumnya.
Mengutip dari Eat This Eat That, pisau yang kurang tajam justru memicu keluarnya gas bawang lebih banyak. Saat pisau tumpul digunakan, bawang tidak teriris dengan bersih, melainkan tertekan dan hancur. Kondisi ini membuat sel-sel bawang pecah secara kasar sehingga gas penyebab iritasi mata menguap lebih cepat dan agresif.
Sebaliknya, pisau super tajam mampu memotong bawang dengan irisan yang tegas, halus, dan cepat. Proses ini tidak memerlukan tekanan berlebih sehingga dinding sel bawang tidak rusak secara berlebihan. Akibatnya, gas yang memicu air mata pun tidak sempat keluar dalam jumlah banyak.
Inilah alasan mengapa para chef bisa memotong bawang tanpa drama air mata. Ketajaman pisau membuat pekerjaan terasa lebih ringan, efisien, dan tentu saja lebih nyaman bagi mata.
Lalu bagaimana jika di rumah belum memiliki pisau setajam milik chef? Tenang, ada trik sederhana yang bisa dicoba. Salah satunya adalah dengan menggantung kertas handuk basah di leher saat memotong bawang. Cara ini dipercaya dapat membantu menyerap gas sebelum mencapai mata.
Teknik sederhana ini cukup populer dan sering dibagikan sebagai solusi praktis di dapur rumahan. Jadi, sebelum menyalahkan bawang yang “kejam”, mungkin sudah saatnya mengecek kembali ketajaman pisau di rumah Anda.



