Jaksa federal Amerika Serikat (AS) membuka penyelidikan kriminal terhadap Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell. Penyelidikan ini berfokus pada renovasi kantor pusat bank sentral di Washington, D.C., senilai US$ 2,5 miliar (Rp 42,18 triliun, kurs Rp 16.870/US$) dan kesaksian Powell mengenai renovasi tersebut di hadapan Kongres.
Powell mengatakan penyelidikan ini merupakan hasil dari frustrasi yang telah lama dirasakan Presiden AS Donald Trump atas penolakan Fed untuk menurunkan suku bunga secepat dan sebanyak yang diminta presiden.
“Ancaman tuntutan pidana adalah konsekuensi dari penetapan suku bunga oleh Federal Reserve berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang akan melayani publik, daripada mengikuti preferensi Presiden,” kata Powell dalam pernyataan video yang diunggah oleh akun X resmi The Fed.
Powell memperingatkan hasil penyelidikan itu akan menentukan masa depan keputusan bank sentral.
“Ini tentang apakah The Fed akan mampu terus menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi — atau apakah kebijakan moneter akan diarahkan oleh tekanan politik atau intimidasi,” kata Powell, seperti dikutip CNBC.
Kontrak berjangka saham AS jatuh setelah pernyataan Powell.
Powell mengatakan Departemen Kehakiman, pada Jumat (9/1), telah mengirimkan surat panggilan pengadilan kepada The Fed yang mengancam dakwaan pidana terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat Juni lalu. Kesaksian itu sebagian berkaitan dengan proyek multi-tahun untuk merenovasi gedung-gedung kantor Federal Reserve yang bersejarah.
“Ini bukan tentang peran pengawasan Kongres; The Fed, melalui kesaksian dan pengungkapan publik lainnya, telah melakukan segala upaya untuk terus memberi tahu Kongres tentang proyek renovasi tersebut. Itu hanyalah dalih,” katanya.
Powell Singgung Tekanan dari Pemerintah AS terhadap Independensi The FedDalam pernyataannya, Powell menyebut ia sangat menghormati supremasi hukum dan akuntabilitas dalam demokrasi di AS.
“Tidak seorang pun, tentu saja bukan Gubernur Federal Reserve, yang berada di atas hukum, tetapi tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintahan,” ujar Powell.
Powell mengatakan ia telah bertugas di Federal Reserve di bawah empat pemerintahan, di bawah presiden dari Partai Republik maupun Demokrat.
“Dalam setiap kasus, saya telah menjalankan tugas saya tanpa rasa takut atau pilih kasih politik, hanya berfokus pada mandat kami untuk stabilitas harga dan lapangan kerja maksimal,” katanya.
“Pelayanan publik terkadang membutuhkan keteguhan dalam menghadapi ancaman. Saya akan terus melakukan pekerjaan yang telah dikonfirmasi Senat untuk saya lakukan, dengan integritas dan komitmen untuk melayani rakyat Amerika.”
Seorang juru bicara Departemen Kehakiman, dalam sebuah pernyataan kepada CNBC, mengatakan, “Jaksa Agung telah menginstruksikan Jaksa AS untuk memprioritaskan penyelidikan terhadap setiap penyalahgunaan uang pembayar pajak.”
New York Times, yang pertama kali melaporkan penyelidikan tersebut, mengutip para pejabat yang diberi pengarahan tentang masalah itu.
Seseorang yang mengetahui penyelidikan tersebut mengatakan kepada CNBC, mereka tidak akan membantah gagasan bahwa penyelidikan terhadap Powell terkait dengan renovasi gedung dan kesaksiannya di Kongres.
New York Times menyebut penyelidikan itu diawasi oleh Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Columbia. Kantor tersebut dipimpin oleh Jaksa AS Jeanine Pirro, mantan jaksa negara bagian New York dan pembawa acara Fox News, yang diangkat ke jabatannya oleh Trump.
Trump, dalam sebuah wawancara dengan NBC News, pada Minggu (11/1) malam, mengatakan, "Saya tidak tahu apa-apa tentang itu," ujarnya merujuk pada penyelidikan kriminal terhadap Powell.
"Tapi dia jelas tidak terlalu bagus di Fed, dan dia tidak terlalu bagus dalam membangun gedung," kata Trump kepada NBC News.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F08%2F07%2Fa32602f712e519b2b97da4da51f06248-FAK_5178.jpg)

