Mengapa Gen Z Makin Sulit Dapat Kerja di 2026?

viva.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Pandemi Covid-19 telah mengubah hampir setiap aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan peluang kerja bagi generasi muda. Bagi Generasi Z alias Gen Z, dampaknya terasa sangat nyata. Banyak dari mereka mengalami kehilangan pengalaman belajar langsung, interaksi sosial, dan kesempatan untuk membangun keterampilan yang relevan di dunia kerja. 

Kondisi ini, akhirnya memunculkan fenomena NEET (Not in Education, Employment, dan Training), menunjukkan bahwa hampir satu juta orang berusia 16–24 tahun tidak berada dalam institusi pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan pada akhir 2025. 

Baca Juga :
Survei: Gen Z Anggap Pekerjaan Seperti ‘Situationship’, Apa Artinya?
Petuah Warren Buffett untuk Job Seeker, Ungkap Ada yang Lebih Penting dari Sekadar Gaji

Dari jumlah tersebut, hampir 600.000 bahkan tidak aktif mencari pekerjaan. Laporan dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi kesulitan besar untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka. 

Salah satu alasannya adalah mereka belum sepenuhnya siap memasuki dunia kerja, terutama karena pandemi, yang membuat mereka kehilangan peluang untuk mengembangkan keterampilan sosial dan pengalaman praktis.

Julie Leonard, Chief Impact Officer di badan amal Shaw Trust yang bekerja untuk mengakhiri krisis NEET, mengungkapkan, pembelajaran daring dan keterbatasan interaksi selama lockdown 2020 menciptakan kesenjangan sosial bagi Generasi Z, terutama yang berusia 20 hingga 24 tahun. 

Ilustrasi melamar kerja.
Photo :
  • freepik.com/yanalya

“Banyak orang muda yang kehilangan tahun-tahun penting di bangku pendidikan tatap muka. Alhasil, mereka juga kehilangan pengalaman kerja, kesiapan bekerja, dan soft skill. Kini mereka menjadi dewasa dalam pasar kerja yang sangat sulit dan lanskap rekrutmen yang telah berubah total selama bertahun-tahun,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari CNBC, Selasa, 13 Januari 2026.

Padahal, soft skill, seperti kemampuan memimpin tim, bekerja sama, dan mengikuti instruksi, menjadi kunci untuk siap kerja. Selain itu, Leonard juga menekankan bahwa banyak generasi muda tidak mendapat kesempatan untuk keluar dari zona nyaman mereka di rumah, termasuk berbicara dengan orang asing atau datang tepat waktu ke sekolah atau pekerjaan. 

Leonard menyebut, banyak perusahaan besar, termasuk KPMG dan PwC, yang menemukan bahwa pekerja muda mereka kekurangan keterampilan etiket di tempat kerja, seperti komunikasi dan kolaborasi. PwC bahkan mulai menawarkan pelatihan resiliensi bagi lulusan baru pada 2025, sementara KPMG sudah menyelenggarakan sesi soft skill sejak 2023, termasuk kemampuan bekerja sama dan presentasi, karena pandemi berdampak pada kurangnya “human skills” generasi muda.

Baca Juga :
Resesi Perekrutan Terjadi, Inikah Penyebab Cari Kerja Makin Susah di 2026?
Soft Saving Jadi Tren Keuangan Baru di Kalangan Gen Z, Ini Manfaat dan Risikonya
Gen Z Panen Cuan, Harta Deretan Miliarder Ini Bikin Minder!

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kebakaran Hanguskan Dua Rumah di Jati Kota Padang, Kerugian Capai Rp750 Juta
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
India Open 2026: Indonesia Kirim 4 Wakil, Lanny/Tiwi Tantang Unggulan No.1
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Rupiah Masih Tak Sanggup Lawan Kedigdayaan Dolar AS Pagi Ini
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dede Yusuf Bicara Pilkada via DPRD: Kita Ikuti Kebijakan Presiden
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Tuntutan UMP 2026 Belum Dipenuhi, Buruh Bakal Demo Lagi di Jakarta pada 15 Januari
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.