Profil Reza Pahlavi, Putera Mahkota Pewaris Shah yang Menentang Rezim Ulama Iran

katadata.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Nama Reza Pahlavi kembali mencuat ke publik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebutnya sebagai figur yang bersahabat. Pernyataan tersebut muncul di tengah konflik domestik yang melanda Iran sejak akhir tahun lalu.

Namun, Trump menegaskan tidak akan bertemu dengan Reza Pahlavi, yang menyebut dirinya sebagai Putra Mahkota Iran. Sikap itu mencerminkan kehati-hatian Washington serta menandakan AS belum siap memberikan dukungan politik apabila rezim yang berkuasa saat ini runtuh.

Reza Pahlavi merupakan putra mahkota terakhir Iran sekaligus figur penting di kalangan oposisi terhadap Republik Islam Iran yang saat ini dipimpin Ayatollah Ali Khamenei.

Dikutip dari berbagai sumber, Reza Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960 di Teheran sebagai anak tertua dari Mohammad Reza Shah Pahlavi—shah terakhir Iran—dan Permaisuri Farah Pahlavi. Dia secara resmi diangkat sebagai Putra Mahkota Iran pada 1967, bertepatan dengan penobatan ayahnya sebagai shah saat itu.

Reza Pahlavi menempuh pendidikan awalnya di Iran sebelum ketegangan politik meningkat pada akhir 1970-an. Pada 1978, saat berusia 17 tahun, ia meninggalkan Iran untuk mengikuti pelatihan jet tempur Angkatan Udara Amerika Serikat di Reese Air Force Base, Texas.

Ketika kerusuhan kian meluas, revolusi Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini pada Januari 1979 menggulingkan monarki dan memaksa keluarga kerajaan angkat kaki dari Iran. Sejak saat itu, Reza Pahlavi tidak pernah kembali ke tanah kelahirannya.

Ia melanjutkan pendidikan tinggi dan meraih gelar ilmu politik dari University of Southern California. Sebagai pilot jet tempur profesional, Reza Pahlavi sempat menawarkan diri untuk mengabdi sebagai penerbang tempur dalam militer Iran selama Perang Iran–Irak, namun ditolak oleh rezim yang berkuasa.

Selama hidup di pengasingan, Pahlavi menyelesaikan pendidikan politik di University of Southern California. Ia kemudian tampil sebagai pendukung vokal perubahan politik di Iran.

Pahlavi yang menetap di Washington, D.C., bersama keluarganya secara konsisten menyerukan transisi damai menuju demokrasi sekuler, sekaligus mengadvokasi hak asasi manusia, kebebasan sipil, dan referendum nasional agar rakyat Iran dapat menentukan masa depan pemerintahan mereka sendiri.

Melansir laman pribadi rezapahlavi.org, Reza Pahlavi menolak gagasan restorasi monarki klasik dan memilih menekankan pentingnya demokrasi serta kedaulatan rakyat. Ia menilai rakyat Iran saat ini menginginkan sistem pemerintahan yang lebih representatif.

Reli Warga Iran di Tokyo ( David Mareuil / Anadolu via Reuters Connect)

Selama lebih dari empat dekade, Pahlavi menjadi tokoh dan pengadvokasi prinsip-prinsip kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia bagi rakyat Iran. Ia menjaga komunikasi intensif dengan sesama warga Iran serta kelompok-kelompok oposisi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Ia kerap berkeliling dunia untuk bertemu kepala negara, anggota legislatif, pembuat kebijakan, kelompok kepentingan, hingga komunitas mahasiswa, guna menyuarakan kondisi rakyat Iran di bawah rezim Islam.

Pahlavi secara konsisten mengecam praktik pelanggaran dan penindasan yang meluas terhadap rakyat Iran serta menyerukan pembentukan sistem demokrasi sekuler di Iran.

Ia juga mendorong perubahan rezim melalui pembangkangan sipil dan penyelenggaraan referendum yang bebas serta terbuka untuk membentuk pemerintahan baru Iran.

Selain menulis sejumlah artikel, Reza Pahlavi juga menerbitkan tiga buku yang membahas kondisi Iran, yakni Gozashteh va Ayandeh (Kayhan Publishing, 2000); Winds of Change: The Future of Democracy in Iran (Regnery, 2002); serta IRAN: L’Heure du Choix [Iran:The Deciding Hour] (Denoël, 2009).

Presiden AS Donald Trump pada Kamis (8/1) menyebut Pahlavi sebagai sosok yang baik dan menyenangkan. Namun, Trump menambahkan bahwa sebagai presiden, tidak tepat baginya untuk bertemu dengan Pahlavi.

“Saya pikir sebaiknya kita membiarkan semua pihak bergerak dan melihat siapa yang akan muncul,” ujar Trump dalam siniar The Hugh Hewitt Show dikutip dari Al Jazeera.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polisi Tangkap Pembunuh Remaja yang Ditemukan Peziarah di TPU Bekasi
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Gagalkan Laboratorium Gelap Etomidate di Apartemen Greenbay
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Presiden Prabowo: Ini Pertama Kali dalam Sejarah Indonesia
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Naik Lagi Harga Emas di Pegadaian Hari Ini Selasa 13 Januari 2026
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Mendikdasmen Resmikan Hasil Revitalisasi Sekolah di Kalimantan Selatan
• 9 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.