Pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp 6 miliar untuk mendorong peremajaan teknologi industri tekstil nasional. Langkah ini ditempuh untuk menjaga keberlangsungan sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja sekaligus memastikan daya saing industri tetap terjaga di tengah persaingan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam pertemuan di Hambalang beberapa waktu lalu. Pemerintah ingin memastikan industri berbasis padat karya (labor intensive) tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
“Dan kemarin di Hambalang pada hari Minggu Bapak Presiden Prabowo menyiapkan untuk mempertahankan yang labor intensive base, pemerintah akan menyiapkan dana sekitar Rp 6 billion itu untuk menjaga agar teknologinya tetap bersaing dan investment-nya tetap berjalan terutama produk textile,” ujar Airlangga dalam acara Kadin, Selasa (13/1).
Menurut Airlangga, industri tekstil memiliki peran strategis karena saat ini menyerap sekitar 5 juta tenaga kerja. Bahkan, jumlah tersebut masih berpotensi meningkat signifikan jika industri mampu beradaptasi dengan teknologi baru dan menjaga iklim investasi tetap kondusif.
“Karena itu mempekerjakan 5 juta tenaga kerja yang tetap punya potensi naik sampai 7 juta tenaga kerja,” katanya.
Ia menegaskan, permintaan terhadap produk sandang secara global akan tetap kuat. Dengan populasi dunia mencapai miliaran orang, kebutuhan pakaian dinilai tidak akan surut, sehingga industri tekstil masih memiliki prospek jangka panjang yang solid.
“Karena dunia isinya 8 miliar orang dan dari 8 miliar orang semuanya pakai baju,” kata Airlangga.
Selain tekstil, Airlangga juga menyoroti sektor industri alas kaki yang dinilai relatif aman dari penurunan permintaan. Ia menilai kebutuhan dasar tersebut akan terus ada seiring pertumbuhan penduduk dunia.
“Dan yang 8 miliar orang itu semuanya saya lihat di sini pakai sepatu. Jadi aman juga untuk industri sepatu,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah juga mendorong transformasi menuju industri masa depan dengan memperkuat digitalisasi. Upaya ini diharapkan dapat melengkapi sektor-sektor padat karya agar tetap relevan, produktif, dan mampu bertahan menghadapi perubahan global.




