Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan mobil listrik oleh industri multifinance mencapai Rp21,31 triliun pada November 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menyebut nilai itu tumbuh sebesar 1,99% secara bulanan.
“Pada November 2025, pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance tumbuh 1,99% MtM menjadi sebesar Rp21,31 triliun,” tuturnya dalam lembar jawaban RDK Desember 2025, dikutip pada Selasa (13/1/2026).
OJK, kata Agusman, optimistis pembiayaan kendaraan listrik pada 2026 terus tumbuh positif seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Selain karena minat, Agusman berujar bertambahnya pilihan merek dan dukungan kebijakan kerap menjadi alasan seseorang membeli mobil listrik.
Oleh karena itu, supaya kinerja pembiayaan tetap terjaga, dia mengimbau perusahaan multifinance untuk memperkuat manajemen risiko, menyesuaikan skema pembiayaan dengan karakteristik kendaraan listrik. “Serta berkolaborasi dengan ekosistem otomotif dan infrastruktur pendukung lainnya,” tegas Agusman.
Baca Juga
- OJK: Empat Multifinance Belum Penuhi Kewajiban Modal Minimum Rp100 Miliar per 2025
- Kredit Multifinance Sentuh Rp506,82 triliun, Tumbuh 1,09% per November 2025
- Sederet Tantangan Penyaluran Pembiayaan Modal Kerja dari Multifinance
Sebagai informasi, per November 2025 piutang pembiayaan di industri multifinance mencapai Rp506,82 triliun, tumbuh 1,09% year-on-year (YoY).
Sementara itu, NPF gross perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,44% dan NPF net sebesar 0,85%. Di sisi lain, gearing ratio sebesar 2,13 kali.
Berdasarkan catatan Bisnis, minat masyarakat terhadap mobil listrik dinilai akan menurun seiring dengan rencana pemerintah yang tidak melanjutkan sejumlah insentif pada 2026.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat pasar mobil listrik nasional hingga kini masih berada pada tahap awal pengembangan.
"Wacana pencabutan insentif kendaraan listrik perlu dikaji secara hati-hati, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang kerap memicu fluktuasi harga minyak mentah dan berdampak pada beban impor bahan bakar minyak [BBM] Indonesia," kata Ibrahim dalam diskusi daring, dikutip Selasa (30/12/2025).
Dia membandingkan kondisi tersebut dengan industri kendaraan berbahan bakar fosil yang telah lebih matang dan memiliki pengalaman panjang dalam menyesuaikan strategi penjualan di tengah tekanan ekonomi.




