Tukang Ramal Kota Tua Bertahan di Tengah Modernitas: Boleh Percaya, Boleh Tidak

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Di bawah langit mendung yang menyelimuti kawasan wisata Kota Tua Jakarta, denyut aktivitas warga dan wisatawan tetap terasa di Jalan Pintu Besar Utara, Senin (12/1/2026). Kawasan bersejarah itu terus hidup, meski cuaca tak sepenuhnya bersahabat.

Langkah kaki para pengunjung berpadu dengan bunyi kamera ponsel yang sesekali terdengar, merekam potongan-potongan sejarah yang melekat pada bangunan kolonial berusia ratusan tahun.

Di tengah lalu-lalang wisatawan yang berjalan santai di atas ubin batu abu-abu, tampak deretan penyedia jasa unik yang telah lama menjadi bagian dari lanskap budaya Kota Tua.

Mereka duduk berjejer di kursi plastik, membuka lapak sederhana di selasar bangunan tua, menawarkan jasa yang di era digital kerap dianggap tak lagi relevan: membaca garis tangan dan meramal nasib.

Baca juga: Menjelang 5 Abad Jakarta, Bangunan Bersejarah di Kota Tua Telantar dan Kehilangan Makna

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=indepth, in depth, Ramalan nasib Kota Tua, Jasa baca garis tangan, Tradisi unik era digital, Konsultasi hidup, peramal kota tua&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMy8xNDE5Mzc4MS90dWthbmctcmFtYWwta290YS10dWEtYmVydGFoYW4tZGktdGVuZ2FoLW1vZGVybml0YXMtYm9sZWgtcGVyY2F5YS1ib2xlaA==&q=Tukang Ramal Kota Tua Bertahan di Tengah Modernitas: Boleh Percaya, Boleh Tidak§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Salah satunya adalah Dede (60), pembaca garis tangan yang telah 25 tahun menggantungkan hidupnya di kawasan Kota Tua.

Ia membuka praktik tepat di bawah naungan bangunan kolonial ikonik, menawarkan jasa konsultasi bagi mereka yang mencari jawaban atas misteri hidup, atau sekadar ingin didengarkan di tengah laju modernitas kota.

Lapak Dede tampak mencolok dibandingkan kios cendera mata di sekitarnya. Spanduk kuning terang terbentang di belakangnya, dipenuhi ilustrasi anatomi telapak tangan.

Spanduk tersebut merinci berbagai kategori konsultasi, mulai dari nasib, peruntungan, pekerjaan, hingga urusan jodoh. Di sudutnya, sebuah jargon terpampang jelas, “Boleh Percaya Boleh Tidak.”

Kalimat itu seolah menjadi penanda sikap Dede terhadap profesinya. Ia tidak memaksa keyakinan, juga tidak mengeklaim kebenaran mutlak.

“Kalau percaya, silakan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa,” ujar Dede saat ditemui Kompas.com di lapaknya.

Dede duduk tenang mengenakan baju koko hitam-putih dan penutup kepala tradisional khas Betawi.

Raut wajahnya kalem, gerak-geriknya terukur. Ia menyambut siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari hiruk-pikuk wisata Kota Tua, entah untuk benar-benar berkonsultasi atau sekadar bertanya.

Baca juga: Bekas Kantor Batavia Terlupakan, Kini Jadi WC Umum dan Hunian Liar di Kota Tua

Di atas meja kayu sederhana miliknya, tersusun sejumlah benda yang menambah kesan simbolis. Terdapat papan bertuliskan “Naftu Kelahiran” yang menghubungkan hari lahir dengan elemen alam seperti api, daun, bumi, dan angin.

Di sisi meja, tumpukan kartu tarot yang sudah lusuh terlihat berdampingan dengan botol air mineral serta beberapa peralatan ramuan tradisional.

Tarif konsultasi yang dipatok relatif terjangkau, sekitar Rp 30.000 per sesi. Durasi konsultasi bergantung pada pertanyaan klien, bisa berlangsung 15 menit hingga berjam-jam.

“Kalau ada yang benar-benar butuh cerita, ya kita layani. Kayak dokter konsul,” kata Dede.

Bertahan sejak Kota Tua masih terminal

Dede mulai membuka lapak di kawasan ini jauh sebelum Kota Tua bertransformasi menjadi destinasi wisata seperti sekarang.

Dua setengah dekade lalu, kawasan tersebut masih identik dengan terminal bus dan lalu lintas yang semrawut.

“Dulu ini terminal, ramai bus. Sekarang wisata,” ujar Dede mengenang.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Sejak awal 2000-an, ia menetap di Kota Tua setelah sebelumnya berpindah-pindah lokasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Percepatan Pemulihan Layanan Adminduk: Dukcapil Salurkan Sarpras ke Aceh Tamiang Sampai Kota Langsa
• 1 jam lalusuara.com
thumb
BKSDA kembali temukan Amorphophallus mekar di Cagar Alam Palupuh
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Minyak Naik, Investor Khawatir Pasokan Berkurang dari Iran
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Presiden Resmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kalimantan Timur
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Teror Belum Usai! Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel Lampaui Rekor Penonton 1 Kakak 7 Ponakan
• 21 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.