Kotak Hitam Jeju Air Pertama Kali Dipublikasikan, Ungkap Pesawat Dihantam 50.000 Burung

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Kecelakaan udara Jeju Air pada akhir tahun lalu yang menewaskan 179 orang kini mengungkap fakta baru. Seorang anggota parlemen Korea Selatan baru-baru ini mempublikasikan data dari Komite Investigasi Kecelakaan, termasuk rekaman kotak hitam pada detik-detik terakhir yang untuk pertama kalinya dibuka ke publik. Rekaman tersebut menunjukkan bahwa pilot segera menjalankan prosedur darurat standar setelah pesawat dihantam kawanan burung dalam jumlah besar, namun tetap tidak mampu mencegah tragedi

EtIndonesia. Pesawat Jeju Air bernomor penerbangan 7C 2216, tipe Boeing 737-800, terbang dari Bangkok, Thailand menuju Korea Selatan pada 29 Desember 2024. Pesawat tersebut keluar dari landasan pacu di Bandara Internasional Muan, Provinsi Jeolla Selatan (South Jeolla), menabrak pembatas dan meledak. Dari 175 penumpang dan 6 awak kabin, hanya 2 orang yang selamat.

Menurut laporan media Korea Dong-A Ilbo dan situs berita penerbangan FL360aero, kantor anggota parlemen Partai Kekuatan Rakyat, Kim So-hee, memperoleh data dari Komite Investigasi Kecelakaan, termasuk hasil laporan sementara. 

Laporan tersebut mencakup tabrakan pesawat dengan kawanan burung, kondisi tanggul beton, ada tidaknya cacat pada pesawat, serta respons pilot. Didalamnya juga terdapat analisis kotak hitam yang sebelumnya belum dipublikasikan.

Komite Investigasi Kecelakaan awalnya menjadwalkan dengar pendapat publik pada 4 dan 5 Desember tahun lalu, namun dibatalkan karena penolakan dari keluarga korban dan faktor lainnya.

Berdasarkan rekaman cockpit voice recorder (CVR) dari kotak hitam, pilot tampaknya menyadari keberadaan kawanan sekitar 50.000 ekor bebek Baikal (Baikal teal, juga dikenal sebagai bebek bermuka belang) sesaat sebelum kecelakaan.

Antara pukul 08:58:11 hingga 08:58:13 pada hari kejadian, kopilot berteriak “Bird!” (burung) dan mengatakan “banyak di bawah.” Kapten kemudian berkata, “Ini tidak bisa,” dan pada pukul 08:58:20 awak pesawat mengumumkan prosedur go around (membatalkan pendaratan dan terbang kembali), sambil berteriak “Go around, go around.”

Namun sekitar enam detik kemudian, pada pukul 08:58:26, kotak hitam merekam suara benturan pesawat dengan kawanan burung. Pada detik ke-35, awak menyatakan “severe damage” (kerusakan parah), dan dalam waktu 15 detik pesawat dialihkan ke mode darurat manual serta salah satu mesin dimatikan.

Setelah menganalisis flight data recorder (FDR) dan engine electronic control (EEC), Komite Investigasi menemukan bahwa mesin nomor 1 berhenti beroperasi 11 detik setelah pilot mengumumkan pemadaman mesin, sementara mesin nomor 2 terus berfungsi hingga pesawat menghantam tanah.

Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan atau menganalisis alasan pilot memilih mematikan mesin sebelah kiri. Investigasi juga menunjukkan bahwa kedua mesin tidak memiliki cacat teknis, baik dalam 14 penerbangan sebelumnya maupun pada hari kecelakaan.

Analisis sisa-sisa benturan burung pada mesin menunjukkan bahwa semuanya berasal dari bebek Baikal. Komite Investigasi menyatakan bahwa bebek Baikal bukanlah spesies yang biasa hidup di sekitar Bandara Muan. 

Sehari sebelum kecelakaan, habitat asal mereka dilanda badai salju dan penurunan suhu drastis, sehingga kawanan tersebut bermigrasi ke selatan secara mendadak. Karena migrasi ini bersifat tiba-tiba dan tidak sesuai dengan kebiasaan mereka yang biasanya aktif pada pagi atau sore hari, kawanan burung tersebut muncul pada waktu pagi saat kecelakaan terjadi.

Laporan juga menunjukkan bahwa saat itu hanya ada satu petugas khusus yang bertanggung jawab atas pengelolaan risiko burung di bandara. Selain itu, publikasi informasi penerbangan terkait kondisi dan lingkungan Bandara Muan tidak mencantumkan informasi mengenai keberadaan bebek Baikal.

Laporan tersebut juga menyoroti salah satu faktor utama yang memperparah jumlah korban jiwa, yaitu keberadaan tanggul beton. Sesuai peraturan, dalam jarak 240 meter dari ujung landasan pacu, tidak boleh ada fasilitas atau peralatan apa pun selain yang mutlak diperlukan untuk penerbangan. Bahkan jika diperlukan, fasilitas tersebut harus menggunakan struktur yang mudah hancur dan dibuat serendah mungkin. Namun, tanggul beton di Bandara Muan saat itu tidak memenuhi standar tersebut.

Hasil simulasi dalam laporan menunjukkan bahwa tanpa tanggul beton tersebut, pesawat kemungkinan akan mendarat dengan badan pesawat (belly landing), meluncur sekitar 770 meter, lalu berhenti, sehingga seluruh penumpang berpeluang selamat. Bahkan jika tanggul tetap ada namun dirancang dengan struktur mudah hancur, tragedi sebesar ini kemungkinan tidak akan terjadi. (Hui)

Dikutip dari Central News Agency / Lu Yongxin


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Puan Lantik Bias Layar Jadi Anggota DPR, Gantikan Mukhtarudin
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Deras Lagi! Cek Informasi Cuaca Jakarta Sore hingga Malam Hari ini Selasa, 13 Januari 2026
• 2 jam laludisway.id
thumb
Pencapaian Mens Rea Puncaki Netflix Indonesia Selama Dua Pekan, Said Didu: Karena yang Disajikan Fakta Semua
• 5 jam lalufajar.co.id
thumb
Atlet NPC Kalimantan Selatan Perkuat Kontingen Indonesia di ASEAN Para Games 2026 Thailand
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Sempat Terkendala Status, Kayu Banjir Jadi Material Hunian di Aceh dan Sumut
• 15 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.