REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM — Pemerintah Kota Mataram menyiapkan program reduksi sampah berbasis lingkungan untuk menekan timbulan sampah dari sumbernya. Strategi ini dijalankan untuk mengurangi beban tempat pembuangan dengan mengandalkan pengolahan sampah organik di tingkat warga.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana mengatakan, program tersebut akan dijalankan melalui inovasi “tempah dedoro” yang mulai diterapkan pada Februari di 50 kelurahan.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- DLH Mataram Targetkan Penurunan Timbulan Sampah Organik
- Mulai 2026, Sampah Organik di Kota Yogya Wajib Selesai di Tingkat Kelurahan
Mohan menjelaskan, uji coba “tempah dedoro” di Lingkungan Marong Jamak Karang Tatah selama dua bulan menunjukkan hasil signifikan. Dari volume awal sekitar 200 kilogram sampah per hari, jumlah sampah yang dibuang ke TPS turun menjadi sekitar 100 kilogram. “Dari data itu, kami bisa lihat reduksi sampah lingkungan bisa mencapai 50 persen lebih,” kata Mohan, Selasa (13/1/2026).
Penurunan volume sampah dinilai terjadi karena sebagian material seperti kardus dan botol bekas dimanfaatkan kembali oleh warga. Kondisi tersebut memperkuat efektivitas pengolahan sampah langsung dari lingkungan.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Program “tempah dedoro” selanjutnya akan diperluas dengan skema satu lingkungan per kelurahan sebagai percontohan.
Mohan mengatakan, anggaran pembuatan satu unit “tempah dedoro” berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Biaya tersebut dapat lebih murah jika model tanpa tempat duduk.
Sistem ini menggunakan buis beton dengan penutup dan lubang pembuangan khusus sampah organik.
Satu unit “tempah dedoro” dapat digunakan oleh tiga hingga empat kepala keluarga untuk mengolah sampah organik secara mandiri. Untuk mengurangi bau dan mempercepat penguraian, warga dapat menyemprotkan cairan EM4 atau menggunakan air bekas cucian beras.
“Setelah sekitar satu tahun, sampah organik bisa dipanen menjadi kompos,” kata Mohan.
Pemkot Mataram menargetkan partisipasi warga tumbuh secara mandiri setelah program berjalan. Mohan juga mendorong penerapan serupa di perkantoran, hotel, restoran, katering, dan sekolah agar reduksi sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas kota.



