EtIndonesia. Dunia internasional kini berada dalam kondisi tegang dan penuh ketidakpastian. Dua pusat kekuatan—Teheran dan Washington—seolah menjalankan “jam hitung mundur” masing-masing. Krisis politik dan keamanan di Iran yang terus memburuk kini berpotensi berubah menjadi konflik berskala besar yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.
Gelombang Protes Raksasa dan Ancaman Serangan Pendahuluan
Pada malam 11 Januari hingga dini hari 12 Januari 2026, situasi di Iran dilaporkan semakin tak terkendali. Berbagai sumber menyebutkan bahwa sekitar 1,5 hingga 1,85 juta warga turun ke jalan di sejumlah kota besar, termasuk Teheran, dalam aksi protes anti-pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di tengah kekacauan tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan pernyataan keras melalui siaran televisi nasional.
Dalam pidatonya, dia mengirimkan sinyal paling berbahaya sejauh ini dengan menyatakan bahwa: Iran tidak menutup kemungkinan melancarkan serangan pendahuluan terhadap kepentingan militer Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran internasional bahwa krisis domestik Iran dapat berubah menjadi konflik regional terbuka.
Ancaman dari Front Laut Merah
Ancaman tidak hanya datang dari dalam Iran. Pada waktu hampir bersamaan, mantan juru bicara kelompok Houthi di Yaman, Yahya Saree, menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat ikut campur secara militer di Iran, maka kelompok Houthi akan: menyerang kapal perang dan kapal komersial Amerika Serikat di kawasan Laut Merah.
Ancaman ini memperluas spektrum konflik dan meningkatkan risiko gangguan serius terhadap jalur pelayaran internasional serta pasokan energi global.
Pernyataan Trump: “Kami Mungkin Harus Bertindak Lebih Dulu”
Pada malam 11 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam wawancara singkat dengan wartawan di pesawat Air Force One, mengungkapkan bahwa para pemimpin Iran telah menghubunginya sehari sebelumnya untuk membahas kemungkinan menghidupkan kembali perundingan nuklir.
Namun, Trump menambahkan pernyataan yang langsung memicu spekulasi global: “Dengan mempertimbangkan apa yang sedang terjadi sekarang, kami mungkin perlu mengambil tindakan sebelum pertemuan itu.”
Trump juga menegaskan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan opsi-opsi yang sangat keras, serta menerima laporan intelijen setiap jam terkait perkembangan di Iran.
“Keputusan akan segera dibuat,” ujar Trump singkat.
Pernyataan ini dinilai sebagai ciri khas Trump—menciptakan tekanan psikologis tinggi tanpa mengungkap rencana strategis yang sebenarnya.
Lindsey Graham: “Malam Ini Bisa Terjadi”
Ketegangan mencapai titik baru ketika Senator AS, Lindsey Graham, sekutu dekat Trump, membuat pernyataan mengejutkan pada malam 11 Januari dalam sebuah acara penggalangan dana di New Jersey.
Graham tiba-tiba menghentikan pidatonya dan berbicara tentang kemungkinan serangan militer Amerika Serikat ke Iran.
“Saya tidak tahu persis apa yang akan terjadi, tetapi malam ini mungkin sesuatu akan terjadi.”
Dia kemudian melanjutkan dengan pernyataan yang sangat keras:
“Kita harus menyingkirkan orang ini. Entah dia pergi dengan berjalan kaki atau dibawa keluar dengan terbaring, saya tidak peduli. Dia harus turun. Jika ini berhasil, ini akan menjadi perubahan terbesar di Timur Tengah dalam seribu tahun.”
Ucapan Graham segera memicu kekhawatiran bahwa keputusan militer dapat diambil dalam hitungan jam.
Ancaman Digital: Starlink dan Perang Informasi
Di sisi lain, Trump juga mengisyaratkan kesiapan bekerja sama dengan Elon Musk untuk mengaktifkan layanan Starlink di Iran. Langkah ini dipandang sebagai ancaman strategis non-militer, karena dapat memulihkan akses internet bagi rakyat Iran yang saat ini mengalami pemutusan total jaringan komunikasi.
Sementara itu, laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa militer reguler Iran dan Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menerima perintah ekstrem: “tembak siapa pun yang terlihat.”
Organisasi hak asasi manusia memperkirakan bahwa hingga 12 Januari 2026, sedikitnya 544 orang telah tewas dan lebih dari 10.000 orang ditangkap.
Namun, sebuah akun intelijen sumber terbuka (OSINT) di platform X dengan hampir 850.000 pengikut mengklaim bahwa kondisi di lapangan jauh lebih buruk. Menurut kesaksian yang belum dapat diverifikasi secara independen, jumlah korban jiwa diduga telah melampaui 10.000 orang.
Seorang saksi mata menyebutkan bahwa jenazah di rumah sakit ditumpuk seperti karung beras, dan pasukan bersenjata menggunakan senapan AK untuk menembaki barisan demonstran secara langsung.
Kebijakan Bumi Hangus dan Dugaan Pemerasan Jenazah
Di Kota Rasht, Iran utara, militer dilaporkan menerapkan kebijakan bumi hangus dengan membakar toko-toko yang ikut dalam mogok nasional.
Sumber lokal juga mengungkap praktik yang sangat mengerikan: keluarga korban diminta membayar 4.000 dolar AS untuk mengambil jenazah kerabat mereka. Jika tidak dibayar, pemerintah disebut akan mengeluarkan peluru dari tubuh korban dan menguburkannya di kuburan massal.
Di tengah situasi ini, warga Iran mulai menandai rumah pribadi pejabat tinggi pemerintah dan militer sebagai bentuk ancaman balasan. Sejumlah laporan menyebut Kolonel Garda Revolusi Mahdi Rasimi sebagai korban pertama dari aksi balasan tersebut.
Pemutusan internet dan jaringan telepon secara nasional diduga tidak hanya untuk membungkam protes, tetapi juga mencegah kebocoran data pribadi pejabat, yang berpotensi memicu pembunuhan terarah.
Banyak pengamat menilai, keruntuhan rezim Iran kini hanya tinggal menunggu waktu.
Dampak Global: Rusia Evakuasi, Beijing Terpukul
Krisis Iran menjadi pukulan besar bagi sekutu utamanya, Rusia dan Tiongkok.
Rusia dilaporkan tengah menyelamatkan aset strategis yang masih bisa dipindahkan.
Mantan Menteri Keamanan Inggris, Tom Tugendhat menyatakan di parlemen bahwa pesawat kargo Rusia terus mendarat di Teheran untuk mengangkut emas dalam jumlah besar keluar dari Iran.
Bagi Beijing, potensi jatuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, berarti kehilangan sekutu anti-Amerika paling penting di Timur Tengah. Dampaknya akan terasa langsung pada energi, geopolitik, dan strategi global Tiongkok.
Lebih krusial lagi, Amerika Serikat akan memiliki ruang strategis lebih luas untuk memusatkan perhatian penuh pada persaingan dengan Tiongkok.
Iran: Kaya di Atas Kertas, Miskin dalam Kehidupan
Runtuhnya ekonomi Iran dinilai sebagai pemicu utama ledakan sosial ini.
Di tengah krisis, muncul pemandangan yang ironis: kantong penuh uang tunai, tetapi telur dan yoghurt harus dibeli secara mencicil.
Seorang warga Iran yang lama tinggal di Taiwan, Amir, menggambarkan kelas menengah Iran sebagai: “miliarder miskin.”
Dia menjelaskan bahwa banyak warga memiliki aset bernilai miliaran, tetapi tidak mampu membeli 5 kilogram daging.
Pensiunan yang sebelumnya menerima 700–800 dolar AS per bulan, kini hanya mendapat 100–200 dolar AS. Harga telur naik lebih dari tiga kali lipat dalam setahun, sementara gaji tidak pernah mampu mengejar inflasi.
Menurut Amir, dua emosi utama yang kini mendominasi masyarakat Iran adalah kelaparan dan kemarahan—kombinasi paling berbahaya yang menjadi bahan bakar utama ledakan revolusi.




