Demokrat Berubah Sikap soal Pilkada via DPRD, Dede Yusuf Singgung Biaya Politik yang Brutal

tvonenews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Partai Demokrat angkat bicara mengenai alasan perubahan sikapnya terkait wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD.

Jika sebelumnya menolak, Demokrat kini mengikuti arah Presiden RI, Prabowo Subianto yang menyoroti mahalnya biaya politik.

Menurut Demokrat, biaya untuk menyelenggarakan pilkada langsung ini menjadi faktor utama yang perlu dievaluasi.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf menyebut, pengalaman Pemilu dan Pilkada 2024 menghabiskan ongkos demokrasi yang sangat tinggi.

“Karena konteksnya, kawan-kawan tahu 2024 adalah sebuah pemilu yang brutal dan costnya tinggi,” kata Dede Yusuf di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Dede menjelaskan, biaya politik yang tinggi tidak hanya terjadi pada pemilu nasional, tetapi juga berdampak langsung pada pelaksanaan Pilkada.

“Pilkada yang kemarin 2024 itu juga costnya sangat tinggi. PSU-nya saja berkali-kali,” ujarnya.

Menurut Dede, perubahan sikap Demokrat bukan berarti keputusan final soal Pilkada lewat DPRD.

Saat ini, fokus pembahasan masih pada revisi Undang-Undang Pemilu, sementara Pilkada dinilai masih jauh.

“Jadi Pilkadanya sebetulnya belum masuk, masih panjang itu, kita masih berbicara 2031, yang ada di depan mata ini adalah undang-undang pemilu,” katanya.

Dede menyebut, Demokrat memilih mengikuti kebijakan Presiden Prabowo sambil membuka ruang pembahasan lanjutan.

“Jadi itu sebabnya saat ini kita ikut dengan kebijakan Presiden, sambil ke depan kita akan melakukan pembahasan demi pembahasan,” ucapnya.

Ia menambahkan, evaluasi sistem pemilu merupakan hal yang wajar dilakukan setiap periode.

“Setiap periode, setiap konteks, kan kita sudah 2 dekade ya melakukan itu. Dan min plusnya pasti ada,” kata Dede.

Terkait upaya menekan praktik politik uang, Dede menyinggung wacana e-voting yang selama ini diuji coba di tingkat Pilkades. Namun, ia menilai e-voting belum otomatis menghilangkan money politic.

“Di Pilkades yang terjadi saat ini itu money politic juga menjadi sangat tinggi sekali karena tidak ada pengawasan yang secara langsung,” ujarnya.

Dede bahkan menyebut biaya Pilkades di sejumlah daerah bisa mencapai puluhan miliar rupiah.

“Ada daerah yang biaya untuk Pilkades itu mencapai 16 miliar. Untuk menjadi kepala desa. Dan itu money politic sangat terjadi,” ungkapnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemprov Banten Mulai Bangun Sekolah Rakyat di Pandeglang
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Liverpool Melaju ke Putaran Keempat Piala FA
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Kadek Arel Masuk Jajaran Elite APPI, Jadi Pemain Aktif Termuda dari Bali
• 4 jam lalubola.com
thumb
8 Teh Ampuh Turunkan Gula Darah Secara Alami, Terbukti Ilmiah
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rupiah pada Selasa pagi melemah jadi Rp16.873 per dolar AS
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.