Bisnis.com, JAKARTA – Prospek penyerapan pasar terhadap produk Surat Berharga Negara (SBN) ritel di 2026 diprediksi solid. Sejumlah katalis ekonomi dari dalam dan luar negeri dinilai bakal mendorong daya tarik produk pembiayaan utang negara itu.
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menilai salah satu daya tarik SBN ritel datang dari kondisi geopolitik global yang kian tidak menentu. Potensi volatilitas pasar akibat kondisi geopolitik yang semakin memanas, diprediksi bakal membuat instrumen investasi dengan risiko minim lebih diminati oleh investor.
Belum lagi, tren penurunan suku bunga acuan akan semakin membuat bunga deposito perbankan menurun. Ahmad memprediksi pemangkasan suku bunga pada tahun ini masih bisa terjadi sebanyak dua kali.
“Saya kira dari sisi makro, dari sisi geopolitik, investor akan cenderung konservatif dan cukup besar untuk menaruh minatnya di SBN Ritel,” katanya saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).
Selain itu, jumlah investor yang bertumbuh di pasar modal Tanah Air juga diprediksi mampu mendorong daya serap pasar yang lebih baik terhadap penerbitan SBN Ritel 2026.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan jumlah investor di pasar modal Tanah Air telah melampaui 20 juta single investor identification (SID) pada akhir Desember 2025. Hal itu mencerminkan kenaikan 34,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Senada, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai peluang penyerapan pasar terhadap produk SBN Ritel 2026 cenderung lebih solid ketimbang 2025.
Dari sisi produk, SBN Ritel dinilai memberikan daya tarik tersendiri, seperti kupon yang lebih tinggi dibandingkan deposito, hingga pemberlakuan pajak yang berbeda ketimbang instrumen investasi lain.
Selain itu, Ramdhan menilai bahwa edukasi terhadap investor ritel kini telah berjalan dengan baik. Dengan begitu, kendati penurunan suku bunga diprediksi masih berlanjut pada tahun ini, tidak serta-merta menghilangkan daya tarik investor terhadap SBN Ritel dengan kupon yang rendah.
Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi penerbitan SBN Ritel pada 2025, yang membukukan serapan pasar yang minim pada dua produk. Hal itu sejalan dengan kondisi suku bunga acuan yang turun pada saat itu.
“Ya investor saat ini lebih memahami kondisi pasar. Mereka juga melihat bahwa instrumen SBN Ritel menjadi pilihan karena memang tidak ada instrumen lain yang bisa menggantikan,” kata Ramdhan, Selasa (13/1/2026).
Adapun untuk diketahui, pemerintah telah merilis jadwal penerbitan SBN Ritel sepanjang 2026. Terdapat total 8 produk SBN Ritel, dengan 2 produk ORI, 2 SR, 2 ST, 1 SWR, dan 1 SBR. Penerbitan pertama akan diawali oleh ORI029 yang bakal diterbitkan pada 26 Januari–19 Februari 2026.
Berikut Jadwal Tentatif Masa Penawaran Obligasi Ritel 2026:-
ORI029 pada 26 Januari—19 Februari 2026
-
SR024 pada 6 Maret—15 April 2026
-
ST016 pada 8 Mei—3 Juni 2026
-
ORI030 pada 6 Juli—30 Juli 2026
-
SR025 pada 21 Agustus—16 September 2026
-
SWR007 pada 4 September—21 Oktober 2026
-
SBR015 pada 29 September—22 Oktober 2026
-
ST017 pada 6 November—2 Desember 2026
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





