Pecahkan Rekor Sejarah, Doktor Termuda Universitas Al-Azhar dari Mauritania Usia 25 Tahun!

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Muhammad Said Anwar (Mahasiswa Pascasarjana Konsentrasi Akidah-Filsafat, Universitas Al-Azhar)

Syekh Muhammad Abdurrahman Muhammad Hafizh Al-Nahwi Al-Syinqithi, baru-baru ini menghebohkan dunia intelektual Islam, imbas lulus dengan nilai tertinggi tingkat doktoral di Universitas Al-Azhar yang terkenal sangat sulit.

Hal tersebut diperoleh dengan usia sangat muda; 25 tahun. Asalnya dari Mauritania, Afrika Barat, atau dikenal dengan sebutan Al-Syinqith di dunia Arab.

Sebelum beliau, ada ulama kelas dunia yang mencapai tingkatan itu pada umur 26 tahun; Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. Rekor tersebut pecah pada Senin, 12 Januari 2026 di Gedung Fakultas Ushuluddin, Auditorium Imam Al-Dzahabi.

Selain itu, hal yang membuat dunia pengetahuan adalah disertasinya yang bertajuk “Teori Evolusi dan Asal-Usul Spesies; Komparasi Universitas Barat-Sampel Universitas Oxford dan Sorbone-dan Relasinya dengan Tiga Agama (Samawi); Studi Komparatif”.

Ini judul sangat serius yang menyentuh area vital antara agama dan sains, di mana bagian ini selalu menjadi arena dikotomisasi dan sekularisasi agama-sains oleh banyak kalangan.

Disertasi ini juga diuji langsung oleh Prof. Dr. Sayyid Bakri Ahmad Abdullatif, Guru Besar Bidang Eksperimental dan Teknik Reproduksi Universitas Al-Azhar, dalam menilik aspek konseptual-teoritis yang ditawarkan peneliti dalam meninjau teori evolusi.

Beliau menyampaikan beberapa kritik, seperti perlunya penguatan pendekatan filsafat naturalis lebih banyak. Selebihnya, beliau mengaku kalau sangat banyak mengambil wawasan baru dari disertasi tersebut.

Juga, sidang ini diuji oleh Prof. Dr. Hasan Al-Syafi’i, Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar, sekaligus Ketua Dewan Penguji.

Beliau menyampaikan kritik terkait teknis penelitian, seperti peneliti terlalu banyak menggunakan media internet sebagai bahan referensi jurnal dan riset, alih-alih bisa menggunakan waktu lebih banyak untuk riset langsung di Universitas Oxford dan Universitas Sorbonne.

Tapi, ketika peneliti ditanya tentang apakah pernah berkunjung langsung, peneliti menjawab “pernah”.

Setelah penguji menampakkan beberapa celah teknis dan metodologis, peneliti kembali mendapat apresiasi. “Disertasi ini muncul untuk menjawab zamannya” ujar Prof. Dr. Hasan Al-Syafi’i.

Disusul pengakuan dari pembimbing utama Prof. Dr. Yusri Ja’far: “Sejujurnya, dalam disertasi ini, ada beberapa hal berat bagi saya.”

Dan juga Prof. Dr. Rajab Khidr: “Masya Allah, sangat jarang kita temui orang yang mengkritik nalar ateisme langsung dari dapur pemikirannya, terlebih peneliti sangat paham bahasa Inggris dan Prancis.”

Sidang ini juga turut dihadiri oleh Prof. Dr. Sayyid Usamah Al-Azhari, Menteri Wakaf Mesir, beserta beberapa ulama besar dari Mauritania langsung.

Hasilnya, disertasi tersebut mendapatkan rekomendasi khusus untuk dicetak di berbagai kampus.

Semoga kita putra-putri, pelajar dan mahasiswa Indonesia di manapun berada dapat meneladani spirit intelektual dari beliau, sehingga melahirkan pemikiran cemerlang yang berkontribusi untuk umat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tiang Monorel Akan Dibongkar, Pramono: Anggaran Rp254 Juta Bukan Rp100 M
• 2 jam laluidntimes.com
thumb
Hujan Deras Picu Banjir di Pandeglang, BPBD Pastikan Tak Ada Korban Jiwa
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Gelombang Panas dan Kebakaran Hutan Melanda Victoria, Australia Siaga Bencana
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
Pilkada via DPRD: Institusionalisasi “Piramida Tunggal”
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Gibran Kunjungi Pasar di Biak, Beli Ikan-Sayuran Pedagang
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.