Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menekan saham-saham emiten konglomerasi yang tercata di papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (13/1/2026). Fluktuasi tajam indeks acuan sejak sehari sebelumnya memicu aksi jual lanjutan pada saham berkapitalisasi besar, meski IHSG pada akhirnya ditutup menguat tipis di akhir sesi.
Berdasarkan data BEI, tekanan terdalam terjadi pada saham Grup Bakrie. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) anjlok 10,13% ke level Rp710 per saham, diikuti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turun 6,88% menjadi Rp406, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang terkoreksi 5,16% ke Rp1.195. Pelemahan terjadi di tengah pergerakan IHSG yang sempat berada di zona merah sebelum berbalik arah.
Baca Juga: IHSG Ditutup Nanjak ke Level 8.948, SOLA Jadi Saham Tercuan!
Tekanan jual juga menjalar ke saham emiten konglomerasi lainnya. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) milik pengusaha Happy Hapsoro merosot 7,69% ke Rp6.600. PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) turun 8,80% ke Rp570, sementara PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) melemah 8,31% ke Rp1.545. Adapun PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) terdepresiasi 2,77% ke Rp8.775.
Di sisi lain, saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu bergerak tidak seragam. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)turun 2,43% ke Rp2.810, sedangkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) justru menguat 2,22% ke Rp9.200. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 0,78% ke Rp1.930, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) menguat 2,22% ke Rp11.525. Sementara itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumoturun 5,31% ke Rp3.030.
Seiring tekanan pada saham-saham konglomerasi, IHSG pada sesi II sempat melemah 0,07% ke level 8.878,72 sebelum berbalik menguat dan ditutup naik 0,72% ke 8.948. Pada perdagangan Senin (12/1/2025), IHSG ditutup melemah 0,58%ke 8.884,72 setelah terimbas koreksi saham-saham berkapitalisasi besar.
Baca Juga: BEI Suspensi Berjamaah 11 Saham yang Naik Tajam, Salah Satunya RMKE
Sehari sebelumnya, IHSG sempat mengalami penurunan tajam hingga 2,48% ke level 8.715,41 pada rentang 14.25–14.30 WIB, sebelum pulih cepat dalam hitungan menit. Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah IHSG mencetak rekor dengan menembus level 9.000 secara intraday pada 8 Januari 2026.
Menurut catatan Ashmore Indonesia, koreksi tajam IHSG pada awal pekan dipicu salah satunya oleh laporan broker yang menyinggung potensi pelebaran defisit fiskal Indonesia di atas 3%. Namun, Ashmore menilai skenario tersebut relatif tidak realistis karena memerlukan revisi undang-undang serta persetujuan DPR dan MPR, sehingga sulit direalisasikan dalam waktu singkat.
Selain itu, tekanan pasar juga diduga berasal dari aksi ambil untung investor menjelang pengumuman free float MSCIbulan ini. Ashmore memandang pelemahan pasar sebagai peluang untuk menerapkan strategi buy on dips, dengan asumsi bauran kebijakan fiskal dan moneter yang masih suportif serta prospek pertumbuhan laba emiten yang tetap positif.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas mencatat penurunan signifikan IHSG pada perdagangan Senin dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang meningkatkan volatilitas, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama indeks.




