BIAK NUMFOR, KOMPAS.com - Sejumlah warga di Papua menyampaikan harapan usai Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming mengecek kondisi Pasar Ikan Fandoi, Biak Numfor, Papua, Selasa (13/1/2026).
Flora Aibekob (54), salah seorang peadgang ikan di Pasar Fandoi mengungkap sangat senang bisa bertemu Gibran.
Bahkan, Gibran juga membeli setumpukan dagangan Mama Papua tersebut, yakni ikan sako serta ikan julung-julung.
"Senang, bangga, gembira, semangat, karena kita pendukung dia," kata Flora di Pasar Fandoi usai Wapres RI memborong dagangannya.
Baca juga: Usai dari Biak Numfor, Gibran Lanjutkan Kunjungan ke Wamena
Flora mengaku ini pertama kalinya ia bertemu dengan wakil presiden.
Sayangnya, Flora dan mama-mama pedagang ikan lainnya tidak sempat banyak berbincang dan menyampaikan aspirasi langsung dengan Gibran.
Meskipun begitu, ia sempat menyalam tangan Wapres Gibran.
"Jabat tangan, tangannya lembut sekali," ungkap dia.
Perempuan paruh baya itu pun berharap pemerintah terus membangun Papua menjadi lebih baik lagi.
Baca juga: Pakai Noken, Gibran Cek Sekolah Rakyat di Biak Numfor Papua
Ibu empat anak itu juga sangat berharap angka pengangguran di Papua bisa diatasi karena masih banyak anak muda menganggur di Bumi Cendrawasih.
"Harus Papua dibangun. Supaya kitong pu (kita orang punya) anak-anak banyak yang masih pengangguran di rumah karena mereka kuliah, terus selesai kuliah tinggal dengan ijazah sampai saat yang ada ini," ucap Flora.
"Mama punya empat anak. Selesai kuliah semua masih menganggur. Satu saja yang baru dapat kerja," imbuh dia.
Meski harapan ini tidak bisa disampaikan langsung ke Gibran saat bertemu di pasar.
Akan tetapi, hal ini merupakan cita-cita mendalam dari Mama Flora.
Baca juga: Gibran ke Pasar Ikan di Biak Numfor, Borong Ikan Baronang dan Panjang
"Belum, tidak sempat karena, sebenarnya harus mau (sampaikan) begitu, tapi karena langsung jalan jadi (tidak sempat)," tuturnya.
Selain itu, Flora berharap Pasar Fandoi bisa menjadi semakin ramai.
Ia menyebutkan, harga ikan di pasar tempatnya berjualan sempat rendah pada tahun lalu, tetapi harga ikan sako dan ikan julung belakangan ini mulai membaik dan normal.
"Tahun kemarin tidak. Harganya jatuh sekali karena ada kapal dari kapal operasi dorang ini, kapal laut ini, dia drop ikan ke dalam pasar, akhirnya kita punya ikan sako dengan julung tertinggal," ucap Flora.
"Harganya jatuh sekali di bawah standar. Rp 20.000 per 20 ekor. Terus sakonya Rp 25.000 kadang turun Rp 20.000 yang ini baru harganya agak naik," ujar dia lagi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



