FAJAR, MAKASSAR –Farhanuddin meraih gelar doktor Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) setelah menjalani sidang promosi terbuka di Aula Prof. Syukur Abdullah, FISIP Unhas, Selasa (13/1/2026). Farhanuddin merupakan dosen Program Studi Ilmu Politik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) sekaligus Ketua Pusat Studi Pemilu dan Politik Lokal (PUSMIPOL) Unsulbar.
Sebelum berkarier di dunia akademik, ia pernah menjadi wartawan Metro TV dan harian Media Indonesia selama lebih dari satu dekade. Farhan juga tercatat sebagai Komisioner KPU Provinsi Sulawesi Barat periode 2018–2023. Dia juga bagian dari pendiri AJI Kota Mandar.
Disertasinya berjudul “Potensi Penerapan E-Voting dalam Mendukung Demokrasi Deliberatif (Adopsi dari Pemilihan Kepala Desa Kabupaten Bantaeng)”, dibimbing Prof Muhammad; Prof Gustiana A Kambo; dan Dr Jayadi Nas. Sidang promosi doktornya dengan tim penguji: Prof Armin, Prof Muhammad Saad, Dr Muh Iqbal Latief, dan Dr Fuadi (penguji eksternal).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada pelaksanaan e-voting dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan e-voting meningkatkan efisiensi teknis, transparansi proses pemilu, serta memperluas partisipasi politik masyarakat.
Dari sisi peluang, e-voting mampu menekan biaya penyelenggaraan, meminimalkan kesalahan manusia, serta mempercepat penghitungan dan distribusi hasil. Namun, tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan infrastruktur digital, regulasi hukum yang belum memadai, keamanan dan kerahasiaan data pemilih, serta rendahnya literasi digital masyarakat.
Farhan menegaskan, temuan ini menunjukkan bahwa e-voting berpotensi besar diadopsi pada skala Pilkada, asalkan diiringi kebijakan komprehensif, pembangunan infrastruktur teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta sosialisasi dan pendidikan politik yang inklusif.
“Hari ini kami berdiri dengan rasa syukur dan haru. Disertasi ini lahir dari pengalaman sebagai penyelenggara pemilu, jurnalis, dan akademisi. Kami ingin melihat demokrasi yang lebih maju dan berkualitas di tengah perkembangan teknologi,” ujarnya.
Sebagai mantan jurnalis, Farhan pernah meliput langsung dinamika pemilu dan pilkada. Saat menjadi komisioner KPU Sulbar, ia merasakan beratnya penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 yang menelan korban jiwa ratusan petugas akibat kelelahan. Sementara sebagai akademisi, ia kerap berdiskusi dengan mahasiswa generasi Z mengenai demokrasi dan teknologi.
Menurutnya, penelitiannya juga lahir dari keinginan untuk melihat kehidupan demokrasi yang lebih maju berkualitas ditengah terus berkembanganya teknologi. (*/)



