REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS—Suriah sedang menuju pemisahan dan pembentukan wilayah-wilayah otonom. Hal ini adalah satu-satunya cara untuk menjamin masa depan minoritas dan stabilitas Timur Tengah.
Sementara Israel adalah satu-satunya pihak yang memenuhi syarat dan penjamin untuk setiap pengaturan masa depan di wilayah tersebut.
Baca Juga
‘Perzinaan Terang-Terangan AS-Israel Jadi Beban Bagi Dunia Internasional’
3 Pilihan Suram yang Harus Dihadapi Trump Jelang Perang dengan Iran
Israel Siaga Penuh Takut Diserang Iran Secara Tiba-tiba, Perang di Depan Mata?
Hal ini disampaikan Pemimpin Spiritual Sekte Druze di Suwayda, Hikmat al-Hajri, dalam wawancara dengan situs web Israel "Ynet" yang berafiliasi dengan surat kabar Yedioth Ahronoth, mengenai situasi politik Suwayda dan hubungannya dengan Israel, dikutip Aljazeera, Selasa (13/2/2026).
Pemerintah Suriah ISIS
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Al-Hajri mengklaim, konflik yang dihadapi komunitas Druze saat ini bukan lagi sekadar perselisihan politik dengan pemerintah, melainkan pertarungan eksistensial melawan pendekatan "barbar" yang menargetkan minoritas.
Dia menggambarkan pertempuran pada Juli antara militan Druze dan militan dari suku Badui sebagai perang genosida yang hanya dapat diselamatkan oleh Israel.
Dia mengatakan pemerintah Suriah dipimpin mentalitas yang tidak berbeda dengan ISIS atau Al-Qaeda, dan menuduh pemerintah mengadopsi apa yang dia sebut sebagai ideologi ISIS.
Dia juga mengklaim, tanpa bukti, bahwa pada Juli, kaum Druze mengalami eksekusi di lapangan, pemerkosaan, dan pembakaran pemukiman.
Tentara Israel beristirahat selama pelatihan di sebuah bangunan terbengkalai yang dulunya adalah markas tentara Suriah di Quneitra sebelum diambil alih oleh Israel, di Dataran Tinggi Golan, 15 Februari 2021. - (EPA-EFE/ATEF SAFADI)