Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mengatakan tetap akan melindungi kepentingannya sebagai tanggapan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut akan menerapkan tarif 25 persen bagi semua negara yang masih berdagang dengan Iran.
"Perang tarif tidak memiliki pemenang. China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah dan sesuai hukum," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Selasa.
Donald Trump pada Senin (12/1) mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap semua negara yang masih berdagang dengan Iran. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyebut tarif tersebut berlaku serta merta serta bersifat final dan mengikat meski belum ada rincian soal penerapannya.
Trump sebelumnya berulang kali mengatakan akan menyerang Iran jika Teheran menggunakan kekuatan yang berlebihan untuk meredakan protes di negara tersebut, tapi Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan Washington memilih langkah diplomasi terlebih dahulu dengan Iran.
Aksi protes besar terjadi di Iran sejak akhir Desember 2025 akibat merosotnya nilai mata uang lokal. Para demonstran menyoroti fluktuasi tajam kurs rial dan dampaknya terhadap harga grosir dan eceran. Iran saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat dengan tingkat inflasi tinggi yaitu mencapai 38,9 persen.
Di sejumlah kota, aksi protes meningkat menjadi bentrokan dengan polisi dan diiringi seruan untuk menentang sistem politik yang berlaku.
Jumlah korban tewas akibat protes di Iran telah meningkat menjadi 646, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS pada Senin. Selain itu sebanyak 10.721 orang telah ditangkap hingga hari ke-16 protes nasional di negara tersebut.
"China berharap Iran akan menjaga stabilitas di negaranya dan mendukung Iran dalam hal itu. Kami selalu menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dan menentang penggunaan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional," tambah Mao Ning.
Ia pun mengatakan China berharap semua pihak akan bertindak dengan cara yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
"Kami mengikuti perkembangan situasi di Iran dengan saksama. Kami akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keselamatan warga negara China," ungkap Mao Ning.
China diketahui merupakan salah satu mitra ekspor terbesar Iran khususnya untuk minyak.
Dari Januari-Oktober 2025, Iran mengekspor 14 miliar dolar AS ke China berdasarkan data dari Administrasi Bea Cukai Iran. Selain itu masih ada negara-negara tujuan ekspor lain Iran seperti Irak, Uni Emirat Arab dan Turki.
Meski begitu, ekspor Iran ke China telah turun tajam dari 2021-2025 menyusul kekhawatiran terhadap sanksi pemerintah AS.
China hanya membeli barang-barang Iran senilai 2,9 miliar dolar AS dalam 11 bulan pertama tahun lalu, menurut angka bea cukai China terbaru, dibandingkan pada 2018 saat masa kepresidenan pertama Trump yang mencapai 21 miliar dolar AS.
Setelah pertemuan antara Trump dan Presiden Xi Jinping pada oktober 2025, kedua pihak sepakat menerapkan tarif rendah yaitu tarif produk China ke AS 10 persen dan tarif produk AS ke China mencapai 10-15 persen hingga 10 November 2026, tapi ditambah bea masuk lain, tarif efektif untuk barang China ke AS tetap di atas 30 persen.
Bila tarif atas Iran benar-benar diterapkan, maka barang-barang China di pasar AS dapat terkena tarif mencapai 55 persen.
Sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, aksi protes semakin intensif di Iran.
Selain di Teheran, unjuk rasa semacam itu juga berlangsung di kota-kota lain, termasuk Kerman, Zahedan, dan Birjand di Iran timur.
Para pejabat Iran menuduh AS dan Israel mendukung apa yang mereka sebut sebagai "perusuh bersenjata," yang telah melakukan beberapa serangan di tempat umum di seluruh negeri.
"Perang tarif tidak memiliki pemenang. China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah dan sesuai hukum," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Selasa.
Donald Trump pada Senin (12/1) mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap semua negara yang masih berdagang dengan Iran. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyebut tarif tersebut berlaku serta merta serta bersifat final dan mengikat meski belum ada rincian soal penerapannya.
Trump sebelumnya berulang kali mengatakan akan menyerang Iran jika Teheran menggunakan kekuatan yang berlebihan untuk meredakan protes di negara tersebut, tapi Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan Washington memilih langkah diplomasi terlebih dahulu dengan Iran.
Aksi protes besar terjadi di Iran sejak akhir Desember 2025 akibat merosotnya nilai mata uang lokal. Para demonstran menyoroti fluktuasi tajam kurs rial dan dampaknya terhadap harga grosir dan eceran. Iran saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang berat dengan tingkat inflasi tinggi yaitu mencapai 38,9 persen.
Di sejumlah kota, aksi protes meningkat menjadi bentrokan dengan polisi dan diiringi seruan untuk menentang sistem politik yang berlaku.
Jumlah korban tewas akibat protes di Iran telah meningkat menjadi 646, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS pada Senin. Selain itu sebanyak 10.721 orang telah ditangkap hingga hari ke-16 protes nasional di negara tersebut.
"China berharap Iran akan menjaga stabilitas di negaranya dan mendukung Iran dalam hal itu. Kami selalu menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dan menentang penggunaan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional," tambah Mao Ning.
Ia pun mengatakan China berharap semua pihak akan bertindak dengan cara yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
"Kami mengikuti perkembangan situasi di Iran dengan saksama. Kami akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keselamatan warga negara China," ungkap Mao Ning.
China diketahui merupakan salah satu mitra ekspor terbesar Iran khususnya untuk minyak.
Dari Januari-Oktober 2025, Iran mengekspor 14 miliar dolar AS ke China berdasarkan data dari Administrasi Bea Cukai Iran. Selain itu masih ada negara-negara tujuan ekspor lain Iran seperti Irak, Uni Emirat Arab dan Turki.
Meski begitu, ekspor Iran ke China telah turun tajam dari 2021-2025 menyusul kekhawatiran terhadap sanksi pemerintah AS.
China hanya membeli barang-barang Iran senilai 2,9 miliar dolar AS dalam 11 bulan pertama tahun lalu, menurut angka bea cukai China terbaru, dibandingkan pada 2018 saat masa kepresidenan pertama Trump yang mencapai 21 miliar dolar AS.
Setelah pertemuan antara Trump dan Presiden Xi Jinping pada oktober 2025, kedua pihak sepakat menerapkan tarif rendah yaitu tarif produk China ke AS 10 persen dan tarif produk AS ke China mencapai 10-15 persen hingga 10 November 2026, tapi ditambah bea masuk lain, tarif efektif untuk barang China ke AS tetap di atas 30 persen.
Bila tarif atas Iran benar-benar diterapkan, maka barang-barang China di pasar AS dapat terkena tarif mencapai 55 persen.
Sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, aksi protes semakin intensif di Iran.
Selain di Teheran, unjuk rasa semacam itu juga berlangsung di kota-kota lain, termasuk Kerman, Zahedan, dan Birjand di Iran timur.
Para pejabat Iran menuduh AS dan Israel mendukung apa yang mereka sebut sebagai "perusuh bersenjata," yang telah melakukan beberapa serangan di tempat umum di seluruh negeri.





