JAKARTA, KOMPAS.com – Banjir yang merendam Kelurahan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, sejak Senin (12/1/2026), tidak hanya memaksa ratusan warga mengungsi, tetapi juga meninggalkan persoalan kemanusiaan di lokasi pengungsian Rusunawa Tegal Alur.
Hingga Selasa (13/1/2026) malam, meski genangan di jalan utama mulai surut, warga masih bertahan di pengungsian karena kondisi rumah yang belum layak huni.
Sebagian besar rumah warga masih lembap, kotor, dan dipenuhi lumpur akibat banjir yang merendam bagian dalam permukiman. Di sisi lain, kondisi di lokasi pengungsian pun jauh dari nyaman.
Keterbatasan ruang membuat sebagian warga terpaksa tidur di lorong terbuka dan berhadapan langsung dengan dinginnya angin malam.
Baca juga: Warga Tegal Alur Lelah Banjir Terus Berulang: Tolong Pak Gubernur Perhatiin Kami
Kedinginan tidur di lorong terbukaKapasitas ruangan pengungsian yang terbatas memaksa sejumlah warga tidur di selasar atau lorong rusun yang tidak memiliki dinding pelindung. Nina (52), warga RT 15 RW 03, bersama 15 anggota keluarganya, harus bermalam berdesakan di lantai dingin tanpa sekat.
“Tidurnya di sini (luar), empat keluarga satu rumah. Habis di situ saya sudah enggak kebagian tempat. Biarin deh saya mah, jadi yang penting jangan kehujanan,” ujar Nina saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa.
Pantauan Kompas.com menunjukkan lorong-lorong rusun berubah menjadi “kamar” darurat bagi para pengungsi.
Kasur, bantal, selimut, hingga perabot rumah tangga seperti galon, termos, dan alat makan berjajar di sepanjang lorong. Para pengungsi hanya beralaskan tikar tipis tanpa alas tidur yang memadai.
Kondisi tersebut berdampak pada kesehatan, terutama bagi lansia dan anak-anak. Nina mengaku tidak bisa beristirahat dengan baik karena suhu dingin dan kondisi lingkungan yang terbuka.
“Semalam saya enggak bisa tidur, dingin. Ini juga saya habis berobat dapat obat gatal sama obat batuk. Kasihan anak-anak kecil, cucu-cucu saya pada kedinginan,” ungkapnya.
Baca juga: Pengungsi Banjir Tegal Alur Alami Batuk dan Gatal-gatal
Krisis popok dan susu bayiSelain persoalan tempat istirahat, para pengungsi juga mengeluhkan minimnya bantuan khusus untuk bayi dan balita. Nina menyebut, hingga hari kedua di pengungsian, kebutuhan mendesak seperti popok dan susu formula bayi belum tersedia.
“Kebutuhan bayi mintanya pampers, terus minyak angin, namanya dingin ya, terus selimut, minta diperhatiin dah ibaratnya. Kalau susu buat cucu belum ada, pampers belum ada di sini ibaratnya,” keluh Nina.
Ia mengungkapkan, memang ada bantuan susu yang datang, namun tidak sesuai dengan kebutuhan bayi.
“Kemarin ada bantuan dari PMI susu, tapi susu UHT. Susu bayinya enggak, belum ada,” kata dia.
Baca juga: Pengungsi Banjir di Rusun Tegal Alur Butuh Bantuan Susu dan Popok Bayi
Distribusi logistik juga menjadi masalah tersendiri. Pada hari pertama banjir, warga mengaku sempat kelaparan karena makanan siap santap baru diterima larut malam.





