JAKARTA - Lebih dari 2.000 orang telah tewas selama penindakan keras oleh pasukan keamanan terhadap protes di Iran. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berjanji kepada warga Iran bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
1. 2 Ribu Orang Tewas
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan, mereka sejauh telah mengkonfirmasi pembunuhan 1.850 demonstran, 135 orang yang berafiliasi dengan pemerintah dan sembilan warga sipil yang tidak terlibat, serta sembilan anak-anak selama 17 hari terakhir meskipun terjadi pemadaman internet.
Seorang pejabat Iran juga mengatakan kepada Reuters 2.000 orang telah tewas tetapi "teroris" yang harus disalahkan.
Melansir BBC, Rabu (13/1/2026), Trump mengatakan otoritas Iran akan "membayar harga yang mahal" atas pembunuhan tersebut dan mendesak orang-orang untuk "terus berdemonstrasi".
Dia telah mempertimbangkan opsi militer dan lainnya sebagai tanggapan terhadap penindakan keras tersebut. Sebelumnya Trump mengumumkan tarif 25% untuk negara mana pun yang berdagang dengan Iran.
Protes yang dilaporkan telah menyebar ke 180 kota dan desa di seluruh 31 provinsi ini dipicu kemarahan atas runtuhnya mata uang Iran dan melonjaknya biaya hidup.
Protes dengan cepat meluas menjadi tuntutan perubahan politik dan menjadi salah satu tantangan paling serius sejak revolusi Islam 1979.
Protes meningkat secara signifikan pada Kamis lalu dan ditanggapi kekerasan mematikan oleh pihak berwenang, yang disamarkan dengan hampir sepenuhnya mematikan internet dan layanan komunikasi.
HRANA mengatakan pada Selasa sore, selain mengkonfirmasi pembunuhan setidaknya 2.003 orang selama kerusuhan, mereka juga sedang meninjau laporan tentang 779 kematian lainnya.
"Kami ngeri, tetapi kami masih berpikir angka tersebut masih konservatif," kata Wakil Direktur Skylar Thompson kepada Associated Press.
Sementara itu, kelompok lain, Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia, mengatakan telah mengonfirmasi pembunuhan setidaknya 734 demonstran.
"Berdasarkan informasi yang diterima dari kurang dari setengah provinsi di negara itu dan kurang dari 10% rumah sakit di Iran," kata Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, kepada AFP.
"Jumlah sebenarnya korban tewas kemungkinan mencapai ribuan," lanjutnya.




