Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas sedikit pertahan dengan melandai pada perdagangan kemarin. Harganya melandai setelah merajalela dalam tiga hari.
Pada perdagangan Selasa (13/1/2026), harga emas dunia turun 0,13% di level US$4.587,39 per troy ons. Penurunan terjadi usai emas mencapai rekor tertinggi barunya. Pada perdagangan intraday, harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level US$4.587,39 per troy ons.
Pelemahan kemarin juga menutup pesta emas selama tiga hari beruntun dengan penguatan 3,2%.
Pada perdagangan hari ini Rabu (14/1/2026) hingga pukul 06.32 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 0,21% di posisi US$4.596,98 per troy ons.
Harga emas mencapai rekor tertinggi pada hari Selasa, karena data inflasi Amerika Serikat (AS) memperkuat spekulasi penurunan suku bunga The Federal Reserve tahun ini dan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang terus-menerus mendorong permintaan aset safe-haven, sementara perak juga mencapai puncak baru.
Namun, aksi profit taking membuat harga emas melandai di akhir perdagangan dan berakhir di zona merah.
"Alasan untuk nada yang sedikit positif di seluruh pasar adalah data inflasi yang baik, menunjukkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk penurunan suku bunga The Fed di masa mendatang," ujar David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures.
Indeks Harga Konsumen inti AS naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada bulan Desember, lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar 0,3% dan 2,7%, masing-masing.
Trump kembali menegaskan dorongannya untuk memangkas suku bunga secara "signifikan" setelah data inflasi tersebut.
The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan 27-28 Januari, meskipun investor saat ini mengantisipasi dua pemangkasan suku bunga tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan bagi emas batangan yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Faktor-faktor fundamental seperti ketegangan geopolitik dan pertanyaan tentang independensi The Fed terus mendukung emas sebagai aset safe-haven.
Kekhawatiran tentang independensi The Fed meningkat setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang menuai kritik dari mantan kepala The Fed dan bankir sentral global.
Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 25% pada negara-negara yang berdagang dengan Iran, yang berisiko membuka kembali luka lama dengan Beijing, mitra utama Teheran. Di tempat lain, Rusia menyerang kota-kota di seluruh Ukraina dengan rudal dan drone semalam.
Commerzbank menaikkan perkiraan harga emas akhir tahun 2026 menjadi US$4.900 per troy ons.
Sementara itu, CME Group mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan menyesuaikan penetapan margin untuk logam mulia untuk mengatasi volatilitas pasar.
Selain itu, permintaan bank sentral terhadap emas telah meningkat selama empat tahun dan kemungkinan akan berlanjut hingga tahun 2026, seiring dengan permintaan investasi yang kuat, kata para analis.
Bank sentral China memperpanjang pembelian emasnya hingga bulan ke-14 pada bulan Desember, sehingga kepemilikannya mencapai 74,15 juta ons troy emas murni.
Saat harga emas mencapai rekor tertinggi sebanyak 53 kali pada tahun 2025, arus masuk tahunan ke dalam dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) emas fisik melonjak menjadi US$89 miliar, yang terbesar dalam sejarah, menurut Dewan Emas Dunia.
Kepemilikan ETF berbasis emas terbesar XAU, termasuk SPDR Gold Trust New York, mencapai 1.073,41 metrik ton pada tanggal 29 Desember, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
(saw/saw)



