Menjaga Kepak Sayap Penguasa Angkasa Pulau Jawa

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Konservasi satwa langka menjadi ikhtiar pemangku kepentingan menjaga keberlanjutan kehidupan alam. Upaya penyelamatan elang jawa (Nisaetus bartelsi), yang merupakan spesies terancam punah, telah berjalan selama tiga dekade.

Saat ini, ancaman utama elang jawa berstatus hampir punah (endangered) ini adalah degradasi hutan hingga perdagangan satwa. Kolaborasi multipihak sangat penting untuk menjaga populasi elang jawa, yang kini diperkirakan tersisa 511 pasang atau sekitar 1.000 ekor, yang hidup di 74 wilayah di Pulau Jawa.

​”Kalau untuk elang jawa, saya pernah ambil anakannya dua kali. Cuma dua kali, setelah itu sarangnya sudah kena angin. Jatuh akhirnya, ya, sudah, enggak ada anakannya lagi,” tutur Setyawan Rahayu, warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025).

Setyawan pernah menjadi penangkap burung liar di lereng Gunung Muria. Dia memikat atau memasang perangkap burung liar.

​Gunung Muria yang mencakup tiga kabupaten, yaitu Jepara, Pati, dan Kudus, merupakan salah satu kantong habitat bagi 14 elang jawa, yang terdiri dari lima pasang dewasa dan empat remaja. Dari awalnya menjadi pemikat burung karena dorongan kebutuhan ekonomi, Setyawan kini bergabung menjadi anggota Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria) yang aktif menjaga kelestarian alam di lereng Muria.

Baca JugaTiga Dekade Konservasi Elang Jawa, Raja Dirgantara Dilepasliarkan di Situ Gunung


​”Kalau masuk hutan, sepi rasanya. Suara kicau burung yang dulu ramai sekarang mulai banyak berkurang. Kebetulan ketemu dengan teman-teman Peka Muria dan bergabung. Mungkin itu bisa menjadi penebusan dosa saya,” ujar Setyawan, yang kini aktif terlibat melestarikan elang jawa.

Selain elang jawa sebagai burung endemis asli Pulau Jawa, Muria menjadi habitat bagi tujuh jenis elang lain. Ketika mendaki lereng Muria bersama anggota Peka Muria pada Selasa itu, kepak sayap beragam jenis elang, seperti elang bido, elang hitam, dan elang jawa, tampak menghiasi langit pagi. Elang-elang dengan mudah bisa dijumpai di langit Muria ketika hutan tersiram hangat sinar matahari.


Begitu memasuki hutan lindung seluas 2.000 hektar, yang telah berkurang dari awalnya 11.000 hektar, kita dapat mengamati aktivitas elang dari sejumlah lokasi hamparan terbuka, seperti gubuk pemantauan Peka Muria. Sambil menyeruput segelas kopi muria panas, kami begitu menikmati pemandangan elang hitam terbang melayang sambil cakarnya mencengkeram erat ular.

Suara elang bido segera memecah kesunyian pagi, disusul ia betah bertengger berjam-jam di dahan pohon. Sementara elang jenis bido terbang sambil memekikkan suaranya, elang jawa dengan ciri khas jambul di kepala dan rentang sayap hingga lebih 1 meter ini terbang melayang dalam senyap.

Setahun terakhir, Peka Muria yang beranggotakan warga lokal bersama Burung Indonesia, organisasi nonpemerintah, dengan didukung Djarum Foundation, lembaga filantrofi, mulai fokus konservasi elang jawa. Konservasi elang jawa dilakukan bersamaan dengan konservasi macan tutul dan reboisasi, yang lebih dulu dilakukan Djarum di Muria sejak 2017.

Pada 2025, pendataan individu elang jawa di Muria telah rampung dan dilanjutkan dengan pencarian pohon sarang tahun 2026. Di Indonesia, pamor elang jawa meningkat sejak ditetapkan sebagai satwa langka nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993. Tapi, bagi kebanyakan masyarakat Lereng Muria, elang jawa hingga kini masih dianggap burung biasa, pemangsa anak ayam.

Kesadaran warga

Perlahan, kesadaran bersama menjaga populasi burung di Lereng Muria mulai tumbuh. Warga Dusun Pondokan, Desa Bageng, Kabupaten Pati, Syaiful Amri (33), bercerita, pemuda desa rutin sukarela menggalang dana untuk membeli beragam jenis burung di pedagang yang kemudian dilepasliarkan di Muria.

“Kalau waktu saya kecil, jalak kebo, pentet, dan burung lain di sini banyak. Di depan-depan rumah, di perkarangan. Sekarang makin jarang,” ujarnya.

Warga swadaya membuat 15 spanduk berisi larangan perburuan burung di Lereng Muria. “Kami tahunya elang saja. Kalau bentuk-bentuk elang Jawa yang pasti seperti apa, kami belum tahu. Elang jarang diburu karena susah ambilnya. Sarangnya tinggi-tinggi di tempat yang curam,” kata Syaiful.

Dari hasil pemantauan bersama dengan Burung Indonesia, Peka Muria menjumpai 120 jenis burung di Muria. Mangsa elang jawa, seperti kelelawar, tupai dan tikus, juga melimpah.

“Untuk elang jawa, pemantauannya memang agak membosankan. Kami harus berdiam di satu tempat mengamati elang jawa muncul dari mana, jam berapa, terus hilangnya dimana. Jadi kami lakukan pengamatan itu selama 63 hari di beberapa titik di Muria,” ujar Ketua Peka Muria Teguh Budi Wiyono.

Baca JugaElang di Langit Muria, Macan Tutul di Batas Hutan

Sejak awal tahun 2000, Burung Indonesia sudah mengidentifikasi Muria sebagai salah satu important bird and biodiversity area. Maknanya, lokasi yang diidentifikasi secara global sebagai wilayah vital untuk konservasi populasi burung dan keanekaragaman hayati penting lainnya, yang dikembangkan oleh BirdLife International, untuk meminimalkan hilangnya habitat melalui perlindungan situs kunci bagi alam di seluruh dunia. 

Sebagai ekosistem penting bagi elang jawa, Gunung Muria termasuk unik karena merupakan tempat berkembangnya populasi elang paling utara Pulau Jawa yang relatif terisolasi. Muria pernah menjadi pulau tersendiri yang terpisahkan Selat Muria sebelum menyatu dengan Pulau Jawa.

Direktur Eksekutif Burung Indonesia Dian Agista menegaskan, ekosistem Gunung Muria cenderung cukup sehat. “Jadi Muria sudah lama sekali diketahui sebagai lokasi penting untuk keragaman hayati menggunakan burung sebagai indikator. Kalau sekarang kita mengetahui ada populasi elang jawa yang cukup banyak, tentunya upaya perlindungan menjadi semakin penting,” ujar Dian.

Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation Jemmy Chayadi mengatakan, Djarum akan fokus pada pencarian sarang elang jawa di Muria tahun ini. “Bagaimana bisa melindungi pohon-pohon tersebut dari ancaman, misalnya, diracun, ditebang, dan lain-lain. Karena dengan melindungi pohon itu, pasti bisa melindungi sarang. Kalau bisa melindungi sarang, berarti bisa melindungi kontinuitas dari populasi elang jawa,” ujar Jemmy.

Saat ini, luasan hutan lindung di Muria sudah terdegradasi dari 11.000 hektare menjadi hanya tersisa 2.000 hektare akibat perambahan hutan di masa transisi dari Orde Baru menuju Reformasi. Alih fungsi lahan menjadi kebun kopi juga terus terjadi. Untuk memperluas kebun kopi, ada warga yang meracun pohon di hutan sehingga mengering dan mati. “Kalau sarangnya sudah ketemu, bagaimana upaya pelindungan, baik secara teknisnya, baik secara hukumnya, yang bisa mendukung atau mungkin juga kita pakai pendekatan kearifan lokal,” tambah Jemmy.

Jemmy menegaskan, masyarakat lokal harus menjadi bagian penting dari upaya melindungi lingkungan satwa liar. “Jadi ada pepatah Afrika. Kalau mau lari cepat, larilah sendiri. Kalau mau lari jauh, larilah bersama-sama. Untuk konteks lingkungan ini kita harus lari cepat dan jauh. Jadi tidak bisa menunggu karena urgensinya tinggi sekali.” ucap Jemmy.

Kolaborasi multi pemangku kepentingan dan multi spesies pun dibutuhkan. Konservasi elang jawa bisa dilakukan bersamaan dengan konservasi macan tutul jawa, owa jawa, badak, dan banteng jawa. “Kita bisa bersama-sama lari cepat dan lari panjang. Harapannya ini bisa menjadi satu ekosistem baru, yang bisa mulai mengajak lebih banyak lagi perusahaan ikut terlibat dalam upaya konservasi satwa liar di Indonesia,” ujarnya.


Tantangan perubahan iklim

Pelestarian elang jawa juga semakin penting sebagai spesies yang seringkali diidentikkan dengan Garuda, lambang negara Indonesia. Hingga kini, status genting (endangered) dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) masih terus disematkan pada elang jawa sejak 1994. Selain di Pulau Jawa, 8 pasang elang jawa juga ditemukan di Bali sejak 2014.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Syartinilia Wijaya, yang sudah 20 tahun menekuni riset elang jawa, mengidentifikasi 74 kantong habitat elang jawa. Sebanyak 30 persen di antaranya tergolong wilayah terisolasi, seperti Gunung Muria yang berlokasi di luar kawasan konservasi. “Terisolasi ini tentu kalau dibiarkan lama-kelamaan akan terjadi penurunan kualitas genetik dan juga bisa kepunahan secara lokal sehingga perlu koridor penghubung dengan habitat di sekitarnya,” ujarnya.

Selain degradasi hutan, Syartinilia menegaskan, konservasi elang jawa juga menghadapi tantangan berupa perubahan iklim, terutama dengan peningkatan suhu. Di Muria, misalnya, warga merasakan iklim lereng Muria tak lagi sedingin dulu. Jenis burung yang biasanya hidup di dataran rendah yang panas juga sudah mulai mudah dijumpai di ketinggian Lereng Muria.

Baca JugaMenyaksikan Elang Jawa Mengudara di Gede Pangrango

Selain fokus konservasi elang jawa di Muria, Djarum Foundation juga mendukung implementasi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa 2026-2035. Pada 11-12 Desember 2025, Djarum bersama Burung Indonesia, Raptor Indonesia, dan Kementerian Kehutanan menggelar lokakarya Peninjauan Status Elang Jawa di Bogor, Jawa Barat

Lokakarya ini menandai perayaan tiga dekade konservasi elang jawa dan berakhirnya periode SRAK Elang Jawa 2013-2022. Lokakarya membahas tiga tema sentral, yaitu, peninjauan dan penyepakatan data terbaru mengenai status populasi, distribusi, serta ancaman elang jawa. Kedua, peluncuran awal proses penyusunan SRAK Elang Jawa 2026-2035. Ketiga, mempersiapkan pelaksanaan penilaian Daftar Merah Nasional bagi kelompok burung pemangsa di Indonesia yang menjadikan elang jawa sebagai salah satu target utamanya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko menambahkan, laporan nasional ini bukan sekadar dokumen ilmiah, tetapi merupakan mandat negara untuk melindungi elang jawa. Data akurat mengenai populasi adalah kunci untuk merancang strategi 10 tahun ke depan yang lebih tepat sasaran.

Puncak acara perayaan tiga dekade konservasi elang jawa ditutup dengan pelepasliaran elang jawa bernama Raja Dirgantara di Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (13/12/2025). Sebelum dilepasliarkan, punggung Raja Dirgantara dipasangkan GPS transmitter. Alat tersebut akan membantu pemantauan tingkat survival dan adaptasi elang, mengikuti pola pergerakan, daya jelajah dan teritorinya selama lebih kurang satu tahun

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menegaskan, habitat elang jawa berada di hutan-hutan konservasi, terutama hutan primer. Dengan demikian, konservasi untuk hutan tersisa di Pulau Jawa memegang peran yang sangat penting. Saat ini, Kementerian Kehutanan sedang memproses rencana penetapan tujuh kawasan konservasi baru yang bisa menjadi penopang keberlangsungan habitat elang jawa, termasuk Taman Hutan Rakyat (Tahura) Muria. “Elang jawa adalah indikator kesehatan ekosistem hutan Jawa. Kita harus memastikan habitatnya tetap lestari agar populasinya dapat meningkat,” ujarnya.

Pemerintah sedang menyiapkan penyusunan SRAK Elang Jawa 2026-2035 serta memperkuat penilaian Daftar Merah Nasional untuk meningkatkan efektivitas konservasi. Berdasarkan data SRAK terakhir 2012-2022, populasi dari elang jawa hanya 600-700 ekor saja di habitat alaminya. Namun, penelitian terakhir menyebut estimasinya adalah 511 pasang atau lebih dari 1.000 ekor.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan Nunu Anugrah menambahkan, dokumen perencanaan spesies menjadi penting. Konservasi tidak cukup mengandalkan pendanaan melalui APBN. “Dalam 10 tahun kira-kira kebutuhannya, selisihnya itu 74 persen sehingga kita harus membuat pendanaan berkelanjutan. Harus mengedepankan paradigma kolaborasi dan kerja sama,” ucapnya di Bogor, Jumat (12/12/2025).

Elang jawa berperan sebagai predator puncak. Maka melindungi elang jawa, akan secara otomatis melindungi spesies-spesies lainnya. Kolaborasi dan strategi integral menjalankan konservasi elang jawa membuat kita sekaligus melindungi spesies lain, yang berada di urutan lebih rendah rantai pasok makan alami.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sekolah Langganan Banjir, Guru SD di Bekasi Minta Pemerintah Perbaiki Akses Jalan
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Refleksi Makrofiskal 2025: Menggugah Asa
• 5 jam laludetik.com
thumb
Status Siaga, Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 5 Km
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Aset Potensial untuk Hadapi Inflasi di 2026
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Bupati Sumedang Tinjau Kesiapan Pembangunan Sekolah Rakyat di Ujungjaya
• 6 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.