Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur pada Senin (12/1). Kilang minyak terbesar yang dibangun PT Pertamina tersebut ditaksir menelan investasi mencapai US$ 7,4 miliar atau Rp 124 triliun.
“Saya Prabowo Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina Refinery Development Master Plan Balikpapan,” kata Prabowo dalam peresmian operasi Proyek RDMP Balikpapan, Senin (12/1).
Berikut serba-serbi Kilang Balikpapan seperti yang dirangkum Katadata, Rabu (14/1):
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, proyek RDMP Balikpapan merupakan yang terbesar di Indonesia. Pemerintah terakhir kali meresmikan proyek RDMP pada 1994 atau 32 tahun lalu untuk Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat.
“RDMP ini, kita bisa menghemat devisa sekitar Rp 60 triliun lebih melalui penambahan kapasitas 100 ribu barel,” ujar Bahlil dalam kesempatan yang sama.
Proyek RDMP Balikpapan yang dibangun sejak 2019 ini mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh. RDMP Balikpapan termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Total nilai investasi yang dikeluarkan untuk proyek ini mencapai US$ 7,4 miliar atau Rp 124 triliun. Nilai ini terdiri dari US$ 4,3 miliar berasal dari ekuitas, sedangkan US$ 3,1 miliar diperoleh melalui pinjaman yang didukung oleh Export Credit Agency (ECA).
Investasi ini alokasikan untuk memodernisasi kilang eksisting, sehingga meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, serta hilirisasi industri petrokimia.
Kapasitas Terbesar di IndonesiaSebelum adanya proyek RDMP, Kilang RU V Balikpapan merupakan kilang pengolahan minyak terbesar kedua di Indonesia setelah Cilacap. Awalnya Kilang Balikpapan hanya memiliki kapasitas kilang 260 kilo barrel per day (KBPD) atau 25,2% dari total kapasitas kilang yang dimiliki Pertamina.
Proyek RDMP Balikpapan kemudian meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260 KBPD menjadi 360 KBPD. Proyek ini juga meningkatkan kualitas produk dari EURO II menjadi EURO V, hingga meningkatkan produk BBM dari 197 KBPD menjadi 339 KBPD dan produk LPG dari 48 kilo tonnes per tahun (KTPA) menjadi 384 KTPA.
Berdasarkan laman resmi Kilang Pertamina International, kilang seluas 283,82 hektare ini memproduksi Solar, Premium, Pertalite, Pertadex, Avtur, Smooth Fluid.
Banyak DramaBahlil menyampaikan penyelesaian proyek RDMP atau revitalisasi Kilang Balikpapan menghadapi banyak drama. Seharusnya proyek ini tuntas pada 2024. Akan tetapi, terdapat bagian kilang yang terbakar.
Ia mencurigai kilang tersebut dibakar, alih-alih terbakar, oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan proyek itu tuntas.
“Kami minta untuk investigasi, ternyata ada udang di balik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita itu mempunyai cadangan dan swasembada energi. Agar impor terus,” ujar Bahlil dikutip dari Antara, Selasa (13/1).
Terdiri atas Tiga LingkupRDMP Balikpapan dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional.
Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.
Early work menjadi tumpuan untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan.
Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang. Mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung.
Tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.
Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.
Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.
Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.



