Cerita ART Nekat Pakai Gaji Beli Saham IPO, Hasilnya Tak Terduga

cnbcindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita
Foto: (foto: Ist/Blog maisyafarhati.com)

Jakarta, CNBC Indonesia — Jauh sebelum pasar modal modern dikenal luas, praktik investasi saham ternyata sudah berlangsung lebih dari empat abad lalu.

Aktivitas jual beli saham kepada publik pertama kali tercatat dilakukan oleh Kongsi Hindia Belanda atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada Agustus 1602, menjadikannya tonggak awal lahirnya investasi saham di dunia.

Skema penggalangan dana tersebut kelak dikenal sebagai penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO), yang membuka akses kepemilikan perusahaan tidak hanya bagi kalangan elite, tetapi juga masyarakat umum dari berbagai latar belakang


Kegiatan investasi tersebut menjadi skema awal yang kemudian hari dikenal sebagai penawaran umum perdana (Initial Public Offering atau IPO).

Setelah IPO diumumkan, banyak orang yang mendatangi Bursa Efek Amsterdam. Laporan Lodewijk Petram dalam The World's First Stock Exchange (2011), ada 1.143 investor yang berinvestasi pada modal awal VOC saat itu.

Semua investor bisa memutuskan berapa banyak uang yang ingin diinvestasikan dan tidak ada batasan. Begitu juga latar belakang investor bisa datang dari mana saja.

Bukan hanya pejabat dan bangsawan, seorang asisten rumah tangga (ART) bernama Neeltgen Cornelis juga melakukannya.

Dia tertarik berinvestasi setelah melihat majikannya Dirck van OS yang merupakan seorang Direktur VOC.

Tidak seperti sekarang, pembelian saham dilakukan manual dan dicatat dengan kertas. Ini membuat rumah Dirck van OS ramai didatangi banyak orang yang tertarik berinvesasi saat IPO terjadi.

Meski tertarik, dia bingung harus mendapatkan uang dari mana untuk berinvestasi. Gajinya sebagai pembantu yang kurang dari lima puluh sen sehari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Neeltgen.

Baca: Mengenal Halving Bitcoin yang Jadi Strategi Trading Derivatif 2026

Sempat maju mundur untuk berinvestasi, akhirnya dia tetap melakukannya saat penawaran perdana saham VOC bakal ditutup. "Dia berpikir akan selalu menyesal apabila dia tidak berinvestasi sekarang. Alhasil dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan uang tabungannya," tulis Petram.

Dia menyisihkan 100 gulden dari uang tabungannya untuk membeli saham. Namanya tercatat sebagai pemegang saham meskipun nilainya tak sebesar investor lain yang menaruh uang hingga 85 ribu gulden.

Ternyata dia sempat mendapatkan untung dari pembelian saham VOC. Petram melaporkan Neeltgen akhirnya melepas kepemilikannya pada Oktober 1603 atau setahun setelah membeli.

Padahal jika terus memiliki saham tersebut, 100 gulden yang dia belikan bisa menjadi ribuan. Bisa juga mendapatkan rempah-rempah, seperti yang didapatkan para pemegang saham sebagai bentuk dividen, ungkap Petram.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Yuk! Berburu Dividen Buat Kado Natal & Awal Tahun

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harapan Mama Papua Saat Gibran Blusukan di Biak Numfor
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Komisi Informasi Pusat Perintahkan KPU Serahkan Ijazah Jokowi
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kriminal kemarin, dua pengedar narkoba ditangkap hingga begal payudara
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
PKS Soal E-Voting di Pilkada, Perlu Dibahas dengan Kepala Dingin
• 6 jam lalugenpi.co
thumb
AS Tetapkan Ikhwanul Muslimin di Mesir-Yordania Sebagai Kelompok Teroris
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.