Harga minyak mentah dunia melanjutkan kenaikan pada Selasa (13/1), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap Iran sebagai salah satu produsen utama dan potensi gangguan pasokan yang menutupi prospek bertambahnya suplai minyak mentah dari Venezuela.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent melonjak USD 1,24 atau 1,9 persen menjadi USD 65,11 per barel pada pukul 13.32 waktu setempat, mendekati level tertinggi sejak pertengahan November. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), naik USD 1,17 atau sekitar 2 persen menjadi USD 60,67 per barel.
Kenaikan harga tersebut diwarnai dengan batalnya pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan petinggi Iran.
"Saya telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga pembunuhan demonstran berhenti. Bantuan sedang dalam perjalanan. MIGA (Make Iran Great Again)," berdasarkan pernyataan Trump di Truth Social, dikutip pada Rabu (14/1).
Seorang analis PVM Oil Associates, John Evans, menyoroti potensi dikeluarkannya ekspor Iran dari pasar, masalah di sekitar Venezuela, pembicaraan mengenai perang Rusia-Ukraina, serta isu Greenland. “Pasar minyak mulai memasukkan unsur perlindungan harga terhadap faktor geopolitik,” ujar Evans.
Iran, yang merupakan salah satu produsen utama minyak di OPEC, saat ini menghadapi gelombang aksi protes anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Penindakan keras aparat terhadap demonstran tersebut yang dinilai telah menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan penangkapan ini memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan langkah militer.
Pada Senin (12/1), Trump mengatakan negara mana pun yang tetap melakukan bisnis dengan Iran akan dikenai tarif sebesar 25 persen atas setiap kegiatan usaha yang dilakukan dengan AS. Selama ini, Iran mengekspor sebagian besar minyaknya ke China.
Selain itu, empat kapal tanker minyak yang dikelola perusahaan Yunani dilaporkan diserang drone tak dikenal pada Selasa (13/1). Delapan sumber mengatakan kepada Reuters bahwa kapal-kapal tersebut berada di Laut Hitam dan sedang menuju terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di lepas pantai Rusia untuk memuat minyak.
Analis Rystad Janiv Shah juga menuturkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan minyak untuk sementara mereda. Namun, ia mengingatkan tingginya tingkat pengolahan kilang di Eropa justru menekan pasar gasoil.
Di sisi lain, premi harga minyak mentah Brent terhadap patokan minyak Timur Tengah, Dubai, naik pada Selasa (13/1) ke level tertinggi sejak Juli. Data LSEG menunjukkan, ketegangan geopolitik di Iran dan Venezuela turut menopang harga acuan global tersebut.
“Ketidakstabilan di Iran telah menambah sekitar USD 3-4 per barel sebagai premi risiko geopolitik dalam harga minyak, menurut pandangan kami,” tulis Barclays dalam sebuah catatan.
Pasar juga tengah bergulat dengan kekhawatiran akan masuknya tambahan pasokan minyak mentah seiring rencana dimulainya kembali ekspor Venezuela. Setelah tergulingnya Presiden Nicolas Maduro, Trump mengatakan pekan lalu bahwa Caracas akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS, yang selama ini dikenai sanksi Barat.
Perusahaan-perusahaan perdagangan minyak global pun muncul sebagai pihak yang diuntungkan lebih awal dalam persaingan menguasai aliran minyak mentah Venezuela, bahkan mendahului perusahaan-perusahaan energi besar asal AS.





