Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendorong para demonstran Iran untuk terus berdemonstrasi. Ia menyatakan “bantuan sedang dalam perjalanan” di tengah penindakan yang dilakukan rezim pemerintah Iran.
Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mengeksekusi para demonstran. AS akan mengambil “tindakan tegas” sebagai tanggapan. Departemen Luar Negeri AS khawatir seorang demonstran mungkin akan dieksekusi pada Rabu (14/1).
Sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS melaporkan lebih dari 2.400 demonstran Iran telah tewas sejak akhir Desember.
“Jika mereka melakukan hal seperti itu (mengeksekusi demonstran), kami akan mengambil tindakan yang sangat tegas,” kata Trump kepada CBS News, tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang tindakan AS tersebut.
Dalam sebuah unggahan di X, Departemen Luar Negeri AS mengatakan otoritas Iran berencana untuk mengeksekusi demonstran Iran yang ditahan, Erfan Soltani, pada Rabu (14/1).
"Lebih dari 10.600 warga Iran telah ditangkap oleh rezim Republik Islam hanya karena menuntut hak-hak dasar mereka. Erfan Soltani, 26 tahun, yang hukuman matinya dijadwalkan pada 14 Januari, termasuk di antara mereka,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam unggahan tersebut, seperti dikutip CNN.
Trump mengatakan kepada CBS News bahwa ia belum mengetahui mengenai hukuman gantung yang akan dijatuhkan kepada para demonstran yang tertangkap. Ia mengatakan AS tidak ingin melihat demonstrasi besar-besaran terjadi di Iran.
"Ketika mereka mulai membunuh ribuan orang, dan sekarang Anda memberi tahu saya tentang hukuman gantung, kita akan lihat bagaimana hasilnya bagi mereka. Itu tidak akan berakhir baik,” kata Trump.
Ketika ditanya bantuan apa yang akan diberikan kepada rakyat Iran, Trump mengisyaratkan kemungkinan AS memberikan bantuan ekonomi.
“Ada banyak bantuan yang akan datang, dan dalam berbagai bentuk, termasuk bantuan ekonomi dari sudut pandang kita, dan itu tidak akan banyak membantu Iran,” katanya.
Rumah Sakit Kewalahan Merawat Korban yang Terluka saat Unjuk RasaSeorang dokter Iran memberikan kesaksian langka tentang kekacauan di rumah sakit dan di jalanan setelah tindakan keras brutal rezim terhadap para demonstran. Ia merawat puluhan pasien dengan luka tembak dan peluru karet selama beberapa hari.
Dokter tersebut, sejak itu telah meninggalkan Iran sehingga ia dapat berbagi kisahnya. Namun, ia tidak ingin diidentifikasi karena khawatir akan keselamatannya dan keluarganya.
"Situasi di rumah sakit kacau pada Kamis (8/1) malam ketika pemadaman internet dimulai," kata dokter itu dalam sebuah wawancara dengan media berita pro-reformasi IranWire, yang dibagikan secara eksklusif kepada CNN.
“Saya melihat apa yang kita sebut situasi ‘Korban Massal’ dalam dunia kedokteran. Itu terjadi ketika potensi dan fasilitas untuk menyediakan layanan kurang dari jumlah pasien,” katanya.
Dokter tersebut harus melakukan triase pasien dan memilih nyawa mana yang akan diselamatkan, berdasarkan siapa yang paling mungkin bertahan hidup sampai ruang operasi tersedia.
Sepanjang malam Kamis (8/1) hingga Jumat (9/1), jenis cedera yang ditangani dokter berubah. “Seolah-olah ada perintah yang diberikan untuk menggunakan peluru tajam sekarang juga,” katanya.




