Pasar Otomotif Nasional Mandek? Begini Analisis Peneliti LPEM UI

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Pasar otomotif nasional menghadapi tekanan struktural akibat menyusutnya kelas menengah dan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut menjadi faktor utama stagnansi penjualan mobil baru dalam beberapa tahun terakhir.

Peneliti Senior LPEM-FEB UI, Riyanto, menyebut harga mobil kini tumbuh lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat.

“Intinya sebenarnya satu ya, daya beli. Harga mobil memang lebih tinggi daripada pendapatan masyarakat secara umum,” ujar Riyanto dalam pemaparan risetnya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang hanya berada di kisaran 5 persen membuat kenaikan pendapatan per kapita tidak signifikan, jika dibandingkan dekade sebelumnya.

“Pendapatan per kapita sudah pasti mungkin naiknya tidak sebesar di periode dasar warsa sebelumnya,” katanya.

Situasi ini semakin diperparah dengan menyusutnya kelompok kelas menengah nasional. Riyanto mencatat, jumlah kelas menengah turun sekitar 9–10 juta orang dalam lima tahun terakhir.

“Kelompok menengah kita turun yang tadinya kira-kira 57 juta. Di 2019, di 2024 itu turun sekitar 9–10 juta, jadi 47 juta,” jelasnya.

Kelompok inilah yang selama ini menjadi motor utama penjualan mobil baru karena rutin melakukan pergantian kendaraan setiap tiga hingga lima tahun. Namun kini, pola konsumsi tersebut berubah.

“Kelompok ini yang biasanya ganti mobil cepat, sekarang lebih lama,” kata Riyanto.

Tak hanya itu, sebagian calon pembeli mobil pertama juga menunda pembelian atau beralih ke mobil bekas.

“Ada beberapa kelompok yang sebenarnya untuk first buyer itu bisa membeli tapi tertunda atau bergeser membeli mobil bekas,” ujarnya.

Menurut Riyanto, kombinasi faktor tersebut membuat pasar mobil baru terus tertekan, meski pasar mobil bekas justru tumbuh.

“Kalau dibandingkan 2013, turunnya sekitar 30 persen. Market mobil bekas justru tumbuh,” ungkapnya.

Ia menilai penyusutan kelas menengah terjadi karena kelompok ini tidak banyak menikmati hasil pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir.

“Kelompok-kelompok menengah ini sebenarnya di pertumbuhan ekonomi 5 persen tidak banyak memperoleh kue ekonomi selama lima tahun,” kata Riyanto.

Akibatnya, daya beli melemah dan berdampak langsung terhadap pasar otomotif nasional.

“Kelompok ini menyusut, sehingga kita pahami ini jadi penyebab pasar otomotif kita yang turun,” tegasnya.

Riyanto menilai, jika kondisi daya beli tidak segera diperbaiki, maka target penjualan mobil baru pemerintah akan semakin sulit tercapai, meskipun teknologi kendaraan khususnya elektrifikasi dan kendaraan yang rendah emisi terus berkembang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Soal Pemanfaatan Kayu Hanyut Bencana Sumatra, Menhut Kasih Penjelasan Begini
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
3 Belum Cukup, Rihanna Isyaratkan Kemungkinan Menambah Anak
• 21 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Usai Yaqut Jadi Tersangka, Wamen Haji Tegaskan Pesan Prabowo: Zero Tolerance Korupsi Haji
• 3 jam lalufajar.co.id
thumb
Menlu Sugiono Tegaskan Diplomasi Ketahanan sebagai Pilar Politik Luar Negeri Indonesia
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas untuk Sedekah Bumi Dukuh Bungkal Sambikerep Kamis Besok
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.